Showing posts with label Sadhana Dzogchen. Show all posts
Showing posts with label Sadhana Dzogchen. Show all posts

Friday, November 1, 2013

Pada sadhana Dzogchen hati tanpa ambisi adalah sebuah keutamaan dalam pelatihan Bhavana!

《盧勝彥尊者 10月27日開示新聞 》聖尊蓮生活佛闡釋《大圓滿<攝帶>》,無企圖心者修行是主要!
《Warta Dharmadesana Arya Sheng-yen Lu 27 Oktober 2013》Arya Dharmaraja Lian Sheng membabarkan metode Penyerap dan Penuntun pada sadhana Dzogchen, hati tanpa ambisi adalah sebuah keutamaan dalam pelatihan Bhavana!

(TBSky/Laporan oleh V.A Huijun) Maha Mayuri Vidyarajni mengenakan mahkota Vairocana Tathagata, empat lengan berwarna emas atau putih ataupun penggabungan warna emas dan putih, di atas kepala mengenakan mahkota Panca Buddha.

Lengan kanan pertama memegang Teratai Putih, lengan kanan kedua memegang buah Matulunga berwarna merah (Red : buah penjalin jodoh baik/俱緣果) ; lengan kiri pertama memegang buah Bilva berwarna kuning (Red : buah sejahtera/吉祥果), lengan kiri kedua memegang bulu merak.


Maha Mayuri Vidyarajni menyimbolkan Tiga Tathagata :

Maha Mayuri Vidyarajni adalah Wujud Penikmatan (Red: Sambhoga-kaya) Buddha Sakyamuni, karena pada kelahiran lampau Buddha Sakyamuni, ada sebuah kehidupan dimana Ia menjadi Raja Merak, jadi merupakan tubuh Sambhogakaya Buddha Sakyamuni.

Maha Mayuri Vidyarajni adalah Wujud Penjelmaan (Red: Nirmana-kaya) Buddha Amitabha, pada Sutra Amitabha tertera bahwa di alam suci Sukhavatiloka terdapat Jivamjivaka (Red: burung berjiwa kolektif/共命之鳥), terdapat burung merak, burung nuri, burung Kalavinka, salah satu daripadanya yaitu Merak merupakan wujud penjelmaan Buddha Amitabha.

Tathagata Vairocana sendiri mengenakan mahkota Panca Buddha, dengan paras nan agung, seluruh paras wajah Beliau merupakan paras wajah Maha Mayuri Vidyarajni. Maha Mayuri Vidyarajni adalah Wujud Emanasi (Red: Nisyanda-kaya) Vairocana Tathagata, wujud yang sama setara, jadi Ia merupakan wujud transformasi utama dari penggabungan Tiga sosok Buddha.

Pot Abhiseka pada aliran Tantrayana, pasti ditancapkan sebatang bulu merak, yang menandakan manifestasi Pot Abhiseka tersebut, sepenuhnya adalah wujud penjelmaan Maha Mayuri Vidyarajni, dengan kata lain Pot Abhiseka tidak lain adalah wujud penjelmaan daripada Maha Mayuri Vidyarajni.

Oleh karena terdapat daya kekuatan Dharmabala Tiga Buddha yang tergabung bersama-sama, maka Maha Mayuri Vidyarajni mampu mengalihkan karma tetap, suratan takdir yang sukar dihindarkan sekalipun bisa dialihkan.

Untuk itu Kekuatan Maha Mayuri Vidyarajni sungguh Agung nan Perkasa.

“Sutra Mahamayuri Vidyarajni” mencatat, semasa Buddha hidup di dunia, ada seorang bhiksu bernama Svati mendapat gigitan ular beracun, penderitaan sakit tak terkira, ketika Ananda melaporkan hal ini kepada Buddha, Sang Buddha kemudian mengajarkan sebuah metode pelatihan yang dapat melenyapkan gangguan makhluk setan dan hantu, dicelakai racun, dan penyakit berbahaya.


Dari segenap Vidyaraja, hanyalah Maha Mayuri Vidyarajni yang menampilkan wujud keelokan nan welas asih, tergolong sebagai Vidyaraja pada sisi maternal Tantrayana, Ia memiliki Empat lengan :

Lengan kanan pertama memegang teratai putih, menyimbolkan “Santika” (pelenyapan segala malapetaka);

Lengan kiri pertama memegang buah Bilva berwarna kuning, menyimbolkan “Paustika” (peningkatan segala berkah);

Lengan kanan kedua memegang buah Matulunga berwarna merah, menyimbolkan “Vasikarana” (penyempurnaan segala jalinan jodoh);

Lengan kiri kedua memegang bulu merak beraneka warna, memakan habis segala racun di tubuh, menetralisir racun, menyimbolkan “Abhicaruka” (menundukkan segala rintangan Mara), bisa mengadisthana sadhaka supaya panjang umur berbadan sehat.

Jadi, empat lengan Maha Mayuri Vidyarajni menyimbolkan tolak bala, peningkatan berkah, penundukan, dan cinta kasih. Segala harapan pada alam duniawi berada di genggaman tanganNya, untuk Adinata ini bisa dilaksanakan Sadhana Karman yang berupa : Santika, Paustika, Vasikarana dan Abhicaruka.

Bunyi pelafalan mantra Catur Sarana pada sadhana ini agak berbeda dengan mantra Catur Sarana kita.

“Nama Guruphe”, ini bermakna bersarana kepada Maha Mula Acarya;
“Namo-Da-Kong-Que-Ming-Wang-Fo”, ini bermakna bersarana kepada Buddha;

“Namo-Da-Kong-Que-Ming-Wang-Jing”, ini bermakna bersarana kepada Kitab Sutra “Mahamayuri Vidyarajni”, yang sama bermakna sebagai bersarana kepada Dharma;

“Namo-Kong-Que-Ming-Wang-Hai-Hui-Juan-Shu”, ‘Hai-Hui-Juan-Shu’ adalah bersarana kepada Sangha, kepada segenap makhluk suci yang banyaknya bagaikan samudera yang menghadiri Pesamuan Agung Mahamayuri. Makhluk suci yang berada pada Pesamuan Agung Mahamayuri diantaranya ada : 7 Buddha di masa lampau, di titik sentral terdapat Maitreya, di sisi kiri dan sisi kanan terdapat Pratyeka dan Sravaka, 8 Dewaraja Langit, 28 Yaksha (konstelasi bintang), Navagraha (Red: Rsi 9 Planet/九曜), 12 Rasi Bintang (十二宮), seluruhnya adalah makhluk suci penyerta Mahamayuri Vidyarajni.

Genap penjapaan 600.000 kali mantra hati Mahamayuri Vidyarajni, pasti terlahirkan ke alam suci Maha Padminiloka.

Thursday, October 31, 2013

Penyingkapan Rahasia Agung makna penglihatan Buddha Sakyamuni terhadap Bintang Timur Cemerlang!



《盧勝彥尊者 10月26日開示新聞 》釋迦牟尼佛見東方明星大揭秘!
大圓滿法中《觀星》證通身是眼!
  【Warta Dharmadesana Arya Sheng-yen Lu 26 Okt 2013】Penyingkapan Rahasia Agung makna penglihatan Buddha Sakyamuni terhadap Bintang Timur Cemerlang!

“Visualisasi Bintang” pada sadhana Dzogchen memperoleh Siddhi Mata di segenap tubuh!

(Warta TBSky/Laporan oleh V.A Huijun) Tanggal 26 Oktober 2013, Yang Mulia Dharmaraja Liansheng Sheng-yen Lu memimpin sadhana bersama Ksitigarbha Bodhisattva di Seattle Ling Shen Ching Tze Temple.

Maha Guru Dharmaraja Lian Sheng mendedikasikan pelimpahan jasa pahala khusus untuk seluruh umat hadirin : “Menghaturkan penghormatan Namaskara kepada Maha Pranidhana Ksitigarbha Bodhisattva, memohon Bodhisattva mengadisthana pengikisan seluruh karma buruk segenap insan, meningkatkan perbuatan kebajikan, untuk memperagung Negeri Buddha, menyirnakan segala malapetaka, meningkatkan buah berkah, membuyarkan segala derita penyakit, Ikrar Agung dapat dituntaskan, Neraka selekasnya menjadi kosong.”

Ksitigarbha Bodhisattva adalah salah satu Yidam Maha Guru Lian Sheng, pengucapan parinamana khusus oleh Yang Arya Dharmaraja Lian Sheng supaya Neraka selekasnya kosong diatas, sejatinya mengandung makna rahasia yang gemilang!

Hari ini bertepatan dengan upacara kelulusan seminar pendidikan Bhiksu Lama periode ke-29 yang diselenggarakan oleh Seattle Ling Sheng Ching Tze Temple, para Bhiksu Lama peserta seminar menghaturkan sembah sujud penghormatan kepada Maha Guru dan kemudian membagikan pengalaman selama mengikuti seminar pendidikan tersebut. Terimakasih tak terhingga kepada Maha Guru Lian Sheng yang telah mengadisthana para bhiksu lama sehingga para peserta dapat menyelesaikan materi pendidikan dalam tempo yang singkat selama 2 bulan, serta terimakasih kepada panitia dari Vihara Seattle yang telah mengorganisir kegiatan ini dengan seksama. Pada hari bersamaan, Maha Guru secara khusus memberikan sertifikat kelulusan kepada Bhiksu Lama sejumlah 4 orang.

Maha Guru Lian Sheng membabarkan : “Ksitigarbha Bodhisattva memiliki sebuah Ikrar : Jika Neraka tidak kosong, sebenarnya Ia tidak hanya berada di Neraka saja, sesungguhnya di segenap Alam (Dharmadatu) ada kehadiran Sang Bodhisattva, dan Ksitigarbha Bodhisattva memiliki sebuah Alam Suci di Neraka yang bernama Cuiwei-Jingtu (Red: Tanah Suci Zamrud nan Elok/翠微淨土), oleh karena Maha Pranidhana (Red: Ikrar Agung) Bodhisattva : ‘Neraka belum kosong berikrar tidak mencapai keBuddhaan, Segenap Insan terselamatkan barulah mencapai Realisasi Bodhi’, maka Ia telah mengucapkan Ikrar sebagai Yang Terakhir untuk mencapai keBuddhaan.”

Arya Dharmaraja Lian Sheng selanjutnya menerangkan ada 3 jenis corak pencapaian keBuddhaan :

1. Corak Raja : Ia terlebih dahulu mencapai keBuddhaan dan dikemudian harinya menyelamatkan insan, seperti Buddha Sakyamuni.

2. Corak Bahtera : Ia mencapai keBuddhaan dan insan juga mencapai keBuddhaan, ibarat berada di atas Bahtera Dharma bersama-sama.

3. Corak Penggembala : Seperti Ksitigarbha Bodhisattva, insan mencapai keBuddhaan terlebih dahulu barulah Ia mencapai keBuddhaan.

Arya Dharmaraja menerangkan lebih lanjut : Seorang yang Tercerahkan akan lebih memahami realisasi Sang Ksitigarbha Bodhisattva. Ini merupakan cara penuturan dengan metode upaya-kausalya.

Ksitigarbha Bodhisattva adalah manifestasi Padmakumara Emas, Ia ada hadir ketika kegiatan sadhana sedang berlangsung tadi. (Umat yang mendengarkan, bertepuk tangan meriah.)

Pada setiap kali kegiatan sadhana bersama, Maha Guru merasakan kontak spiritual daya rohani, bagaikan energi listrik yang saling berinteraksi, sekarang di Seattle Ling Shen Ching Tze Temple pada setiap hari Senin hingga hari Jumat membacakan Sutra dan melafalkan nama Buddha, selama bervisualisasi Buddha Amitabha menetap di ubun-ubun kepala ataupun sewaktu bervisualisasi keagungan tubuh menjulang Sambhogakaya Buddha, dengan sepenuh hati memvisualisasikan maka untuk kondisi seperti ini Buddha Amitabha pasti akan turun dari langit.

Hari ini dengan hadirnya Ksitigarbha Bodhisattva, saya memohon supaya Neraka selekasnya menjadi kosong, maka Ia segera akan mencapai keBuddhaaan. Di masa kini jika menyalakan siaran televisi, tak habis pikir ternyata ada orang dengan tanpa berpikir panjang mencelakai orang, terhadap sesamanya yang tiada ikatan dendam apapun juga dicelakai. Ada orang yang belum tentu mencelakai orang dengan menggunakan pisau dan senapan, akan tetapi dengan memakai mulut pun juga bisa mencelakai orang.

Untuk itu, siswa Buddha tidak boleh mencelakai sesamanya, seharusnya memiliki hati yang lemah lembut, Buddha Sakyamuni mengajarkan insan untuk memiliki hati yang lemah lembut, belajar merendahkan diri, di ajaran agama lain pun ada juga pengajaran demikian. Banyak sekali hal yang belum tentu seperti apa yang kita pikirkan, ada kalanya jika dipikirkan dari sudut pandang lain, belum tentu kondisinya seburuk demikian, hendaknya menerapkan disiplin yang ketat terhadap diri sendiri akan tetapi sebaliknya bersikap toleran terhadap orang lain, jangan pernah mencelakai orang lain. Tingkat pertama dari “Tingkatan sadhana Dzogchen” adalah ‘Sravayakana’, yang meskipun melatih bhavana secara individual, namun tidak akan melakukan perbuatan melukai orang lain. Kemudian ketika meneruskan pendalaman ke tingkat pelatihan selanjutnya yakni tingkatan Bodhisattva, bukan hanya saja tidak akan melukai orang akan tetapi turut disertai juga dengan pertolongan kepada orang lain.

Arya Dharmaraja Lian Sheng menyertakan sebuah contoh : ada seorang wanita menulis surat memohon kepada Maha Guru untuk menuliskan selembar Hu, supaya suaminya sendiri tidak akan berpaling kepada wanita lain.

Terhadap permohonan seperti ini, Maha Guru mengutarakan sebuah kesan : Insan pada umumnya hanya memikirkan diri sendiri, ada kalanya semestinya memikirkan orang lain juga. Pada kenyataannya ‘Hu’ semacam ini tidak ada, seyogyanya batin sendiri diluruskan, janganlah memiliki hati yang dicemari niat jahat.

Selanjutnya, Arya Dharmaraja menjelaskan “Visualisasi Bintang” pada Sadhana Dzogchen yang luar biasa :

Ketika Buddha Sakyamuni memperoleh Penerangan Agung, menjelang fajar mulai menyingsing, Ia menyaksikan Bintang Timur bersinar cemerlang di ufuk langit, kemudian ia pun memperoleh Pencerahan Sempurna. Sebenarnya adalah Buddha Sakyamuni pada pemandangan langit malam tersebut telah menyaksikan bintang-bintang internal di dalam tubuhNya sendiri, bahwasanya Ia telah melihat Buddhata-Nya, yakni fenomena Pencapaian keBuddhaan.

Bintang adalah letak Alam Suci Akasagarbha Bodhisattva. Master Kukai (空海大師) menekuni metode bhavana : Kokūzō-gumonjihō (虚空蔵求聞持法) , dari angkasa ada sebuah bintang masuk ke dalam mulutnya sehingga terjadi pembangkitan Kebijaksanaan Agung, terlebih terhadap segenap isi Kitab Sutra dalam sekali baca tidak akan terlupakan.

Wednesday, October 23, 2013

【Warta Dharmadesana Arya Sheng-yen Lu 20 Okt 2013】Empat kondisi Nirwana pencapaian sadhana Dzogchen


【盧勝彥尊者10月20日開示新聞】修證大圓滿法的四種涅槃境界
【Warta Dharmadesana Arya Sheng-yen Lu 20 Okt 2013】Empat kondisi Nirwana pencapaian sadhana Dzogchen

Tanggal 20 Oktober 2013, Arya Dharmaraja Liansheng Sheng-yen Lu di Seattle Ling Shen Ching Tze Temple, memimpin Maha upacara homa Hevajra.

Usai upacara Dharma, Maha Guru memperkenalkan adinata upacara homa minggu depan adalah Maha Mayuri Vidyaraja.

Maha Guru membabarkan : Maha Mayuri Vidyaraja adalah cikal bakal penetralisir racun. Karena “Merak” (Mayura) semakin beracun benda makanannya, bulu-bulunya akan menjadi semakin indah, diantara seluruh Vidyaraja yang lain Ia adalah yang paling indah nan elok, karena Ia termasuk Adinata utama di sisi maternal aliran Tantrayana.

Melatih sadhana ini bisa menetralisir racun, panjang umur dan sehat bebas leluasa. Merak adalah satu-satunya makhluk fauna yang boleh memakan racun, hakikat utamaNya ialah akan menolong insan yang tubuhnya mengandung racun.

Selanjutnya Maha Guru memperkenalkan Adinata pada upacara Dharma ini “Hevajra” : Hevajra memiliki daya kekuatan penunduk 4 jenis Mara (Catvari-Mara), yakni Mara pergolakan batin (Kilesa-Mara), Mara kematian (Mrtyu-Mara), Mara penyakit * (Skandha-Mara) dan Mara langit (Devaputra-Mara). Maha Guru sudah pernah menuliskan sebuah buku pengulasan berkenaan Hevajra (yaitu buku berjudul ‘大樂中的空性’/Sunyata dalam Maha Sukha) , didalamnya banyak menerangkan makna mendalam penekunan sadhana Hevajra, Ia bisa menyirnakan segala penyakit, menundukkan segala binatang buas, memberikan segala ratna mustika, memperoleh 8 Kuasa Maha Leluasa, menggenggam kuasa atas bumi langit beserta surya candra. Buku diktat Hevajra ini telah dibabarkan selama 5 tahun oleh Maha Guru, untuk itu pada kesempatan upacara Dharma ini tidak kembali dikupas.

(*Red: pada buku-201 ‘大樂中的空性’/Sunyata dalam Maha Sukha, Maha Guru lebih jelas menerangkan bahwa salah satu dari 4 Mara di atas disebut ‘五陰魔’: Mara Panca Skandha)

Kemudian dalam pembabaran Dharma “Sadhana 9 tingkat Dzogchen”, Maha Guru membabarkan konsep pandangan seorang sadhaka Tantrayana terhadap kehidupan dan kematian :

Sang Buddha telah membabarkan begitu banyak pengajaran berkenaan tentang pelampauan fenomena kematian, karena esensi kematian lebih penting dibandingkan hidup, di dunia ini hal yang paling adil adalah kematian, benda material dapat dimiliki akan tetapi tidak senantiasa bisa memiliki jiwa kehidupan. Maha Guru tidak memikirkan masa lampau, masa kini, masa akan datang, tidak memikirkan apapun, karena bangunan rumah semegah apapun, mobil semewah apapun sama juga akan rusak apalagi tubuh fisik manusia ; tidak menyoal sosok rupawan, buruk rupa, status terhormat ataupun yang paling hina dina, ketika ajal telah menjemput maka sukar menghindari kematian, semuanya ini adil dan sama rata. Vihara Sangharama sejati Maha Guru berada di atas langit, bukanlah berada di alam duniawi, di alam duniawi tiada Vihara yang kekal abadi, Zhenfozong, Sheng-yen Lu… Untuk itu pandangan Maha Guru sangat terbuka seluruhnya adalah baik adanya, dengan demikian musnahlah Kilesa-Mara!

Maha Guru berpandangan sebenarnya kematian adalah sejenis pembebasan. Hal yang paling adil di kolong langit ini adalah kematian, setiap orang niscaya menghadapinya, untuk itu insan hendaknya tidak gentar kepada Mara kematian, sepanjang diri anda tetap berada di dalam keteguhan hati pada Jalan Penerangan (Maggacitta) maka tiada hal apapun yang patut ditakutkan, ketika tiba saatnya secara alamiah Mulacarya, Adinata, Dharmapala anda akan datang menjemput anda, pasti memperoleh keberhasilan.

Selanjutnya, Maha Guru menerangkan 4 kondisi Nirwana pencapaian sadhana Dzogchen :

Monday, October 21, 2013

【Warta Dharmadesana Arya Sheng-yen Lu 19 Oktober 2013】Pemeroleh keberhasilan Dzogchen mencapai Empat Fenomena Batin.


【盧勝彥尊者10月19日開示新聞】大圓滿法成就者證四現象。
【Warta Dharmadesana Arya Sheng-yen Lu 19 Oktober 2013】Pemeroleh keberhasilan Dzogchen mencapai Empat Fenomena Batin.

Arya Maha Guru Dharmaraja Liansheng Sheng-yen Lu pada tanggal 19 Oktober 2013 memimpin pujabhakti bersama “Sadhana Adinata Avalokitesvara Bodhisattva” di Seattle Ling Shen Ching Tze Temple.

Berikut adalah intisari Dharmadesana Maha Guru :

Avalokitesvara Bodhisattva adalah sesosok Bodhisattva yang penuh Maitri Karuna, Ia mempunyai banyak tubuh penjelmaan, kisah-kisah pertolonganNya kepada insan manusia sangat banyak beredar. Pada masa dahulu kala sebenarnya Ia adalah sesosok Buddha, bergelar Tathagata Zhengfa Ming (正法明如来/Zhengfa Ming Rulai), kemudian oleh sebab melaksanakan karya pertolongan kepada insan sehingga Ia menjadi sosok Bodhisattva yang memanifestasikan banyak ragam wujud rupa. Ia mempunyai penjelmaan tubuh yang tak terhingga, Ia senantiasa berada di alam duniawi, dan tidak pernah meninggalkan alam fana ini untuk menolong insan dunia Saha. Bodhimanda tempat ibadah pemujaanNya terutama berada di Tibet, yang selanjutnya kembali memanifestasikan tubuh jelmaan tak terhingga ke berbagai penjuru dunia demi menolong insan.

Di dalam bhaktisala Vihara telah hadir Shellyann shijie : seorang saudari se-Dharma tunanetra yang berasal dari Toronto - Canada, Shellyann shijie berdiri dari tempat duduk kemudian menceritakan bahwa seusai memperoleh adisthana dari Yang Mulia Maha Guru, ia merasakan sebentuk energi hangat mengalir dari ubun-ubun kepala hingga terus beredar ke seluruh tubuhnya, dan kini kedua matanya pun sudah bisa melihat cahaya, yang dulunya hanya sekedar pandangan gelap gulita.

Yang Mulia Maha Guru berkata ini adalah pemberkatan Bodhisattva Avalokitesvara Berjubah Putih. Sewaktu kita melafalkan “Da Chi Da Bei Guanshiyin Phusa” hendaklah melengkapinya dengan kalimat “Guang Da Ling Gan” karena kuasa pertolonganNya sangat nyata .

Terdapat 4 fenomena batin untuk pemeroleh keberhasilan Dzogchen :

1. Keseimbangan batin, mampu meneduhkan batin dengan keheningan untuk memusatkan pikiran - tiada pikiran semu. Bisa hidup dengan sebatang kara, tak menyoal apakah di hutan belantara, ataupun berada di pusat hiburan di tengah keramaian orang, lubuk batin seorang Siddha senantiasa berada dalam keheningan, ia mempunyai bentuk kekuatan ini. Selama pikiran dapat terpusat, Buddha berkata tiada apapun yang tak dapat direalisasikan, apabila pikiran tidak dapat terpusat maka hal secuil apapun tidak akan bisa terwujud, oleh sebab tidak dipunyainya kuasa pemusatan pikiran. Batin insan senantiasa dalam ketidakseimbangan, karena konsentrasi mudah bercabang sehingga menjadikan pikiran berserakan. Daya konsentrasi untuk sebagian besar orang mudah terpecah-belah, alhasil tidak mampu memusatkan pikiran.

2. Tiada Kegentaran. Setelah penyaksian cahaya pada tahap Togal, pemahaman terhadap makna Buddhata dapat menghasilkan tiada kegentaran, tidak mementingkan diri sendiri yang bahkan kematian pun tidak ditakuti. Karena mengetahui apa hakikat kelahiran/kematian, mengetahui apakah makna terutama kehidupan di alam duniawi ini, memahami semua seluk-beluk kehidupan, terhadap apa saja tiada ketakutan. Tiada takut akan kematian karena mampu menuju Buddhaloka, derita penyakit juga tidak dihiraukan oleh karena memahami sedang menuntaskan buah karmavipaka penyakit, berusia lanjut pun tidak bermasalah.

3. Tanpa kerisauan dan kegundahan batin, setiap hari penuh sukacita, disebabkan ketenteraman rohani oleh Buddha Dharma berada pada tubuh, melayang-layang nan bebas leluasa, tubuh bagaikan sebuah panah terbang membumbung ke atas angkasa, bagaikan awan yang terbang mengawang-awang di atas cakrawala angkasa. Karena didalam tubuh terdapat api kundalini dan prana yang berkepenuhan, nadi tengah telah ditembusi; api kundalini, prana, bindu beredar di nadi tengah, setiap saat berbahagia dalam kehangatan. Kondisi ini merupakan kebahagiaan terunggul sehingga setiap hari senantiasa bergembira hati dan berbahagia.

Thursday, October 17, 2013

【Warta Dharmadesana Arya Sheng-yen Lu 12 Oktober】Arya Dharmaraja Liansheng Sheng-yen Lu pada hari Sabtu 12 Oktober 2013 bertempat di Seattle Ling Shen Ching Tze Temple memimpin “Sadhana Adinata Buddha Amitabha”, dan mengajarkan “Sadhana 9 Tingkat Dzogchen”.


【盧勝彥尊者10月12日開示新聞】2013年10月12日(星期六)聖尊蓮生活佛 盧勝彥法王於〈西雅圖雷藏寺〉主持「阿彌陀佛本尊法」,講授「大圓滿九次第法」。
【Warta Dharmadesana Arya Sheng-yen Lu 12 Oktober】Arya Dharmaraja Liansheng Sheng-yen Lu pada hari Sabtu 12 Oktober 2013 bertempat di Seattle Ling Shen Ching Tze Temple memimpin “Sadhana Adinata Buddha Amitabha”, dan mengajarkan “Sadhana 9 Tingkat Dzogchen”.

Usai sadhana bersama, Arya Dharmaraja Lian Sheng terlebih dahulu memberikan sembah hormat kepada para Guru Silsilah, kemudian menyapa seluruh jajaran Dharmaduta, tamu-tamu terhormat beserta seluruh umat dan simpatisan di internet kemudian memberikan babaran Dharma : Makna Rahasia dari Buddha Amitabha ialah “Cahaya Tak Terhingga”, “Usia Tak Terhingga”, dan Buddha Amitabha adalah sesosok Adinata yang paling ternama, diketahui oleh setiap orang; Anggota Sangha apabila saling bersua memakai lafalan “Amituofo” sebagai salam saling menyapa; demikian pula Tanah Suci Hyang Buddha Amitabha pun ialah yang paling indah, dan Tanah Suci yang paling ternama.

Semasa melafalkan nama Buddha, hendaklah melafalkan Amituofo, dan hendaklah juga melafalkan nama dua penyerta suci “Avalokitesvara Bodhisattva” dan “Mahasthamaprapta Bodhisattva”, inilah Tiga Suciwan dari Alam Barat.

Pintu penekunan penjapaan nama Buddha milik “Aliran Tanah Suci”, memprioritaskan kepada Maha Sadhana Amitabha, yakni pendarasan nama Budha, yang dikenal juga sebagai Jalan Penekunan termudah. Salah satu cara mudah mendaraskan nama Buddha - - menarik napas kemudian mendaraskan nama Buddha sampai napas dihembuskan, dilakukan hingga total sebanyak 10 kali, inilah yang disebut sebagai “Sadhana Sepuluh Penjapaan”.

Adapun pada pelafalan nama Buddha ada yang berupa pelafalan empat aksara, dan ada pula pelafalan enam aksara, Arya Dharmaraja Lian Sheng memperagakan beberapa jenis pelantunan japa nama Buddha, kemudian menjelaskan kepada semua umat, bahwa jenis pelantunan seperti apa yang paling anda sukai, maka bisa menggunakan jenis pelantunan tersebut.

Arya Dharmaraja Lian Sheng mengajarkan umat cara menjapa nama Buddha, jika penjapaan di alam terbuka, boleh bervisualisasi Buddha Amitabha menjulang bagaikan pohon pinus, bahkan tingginya hingga mencapai langit, sembari menjapa nama Buddha, sembari memvisualisasikan wujud agung Buddha Amitabha ;


Jika penjapaan nama Buddha dilakukan di dalam Vihara ataupun rumah, boleh bervisualisasi Buddha Amitabha setinggi ibu jari, seluruh badan berwarna keemasan, bersemayam di kening antara alis mata, bahkan diri sendiri bertransformasi menjadi Buddha Amitabha, setelah visualisasi dengan sejelas-jelasnya, pasti akan memperoleh sensasi spiritual, dan diri sendiri akan mengetahui apakah Buddha Amitabha hadir apa tidak.

Sewaktu Arya Dharmaraja Lian Sheng memandu umat melaksanakan pradaksina mengitari Buddha di Vihara di setiap harinya, setiap kali Buddha Amitabha pasti hadir pula, dan inilah kondisi samprayukta (Red: xiangying).

Adanya perolehan samprayukta, maka sewaktu diri menjelang ajal, selama sepenuh hati menjapa nama Buddha, maka Buddha Amitabha pada waktu yang krusial ini, akan menjemput anda terseberangkan ke Tanah Suci!

Jadi sekali memperoleh kontak samprayukta, maka selamanya tiada akan terpisahkan!

Selanjutnya, Arya Dharmaraja Liansheng Sheng-yen Lu meneruskan babaran kepada umat mengenai Abhiseka dan Fenomena Refleksi Abhiseka daripada “Sadhana Dzogchen”.

Abhiseka di aliran Tantrayana terdapat 4 tingkatan : Abhiseka Pot, Abhiseka Sadhana Internal, Abhiseka Anuttara Tantra, Abhiseka Dzogchen. Sedangkan pada Sadhana Dzogchen sendiri terkandung dua abhiseka yang sangat penting :

1. Abhiseka Panca Buddha (五佛巖頂灌頂) : Abhiseka sentuhan Panca Cakra. (Karmapa ke-16 pernah mengabhiseka Arya Dharmaraja Lian Sheng abhiseka jenis ini, luar biasa sekali.)
Di ‘cakra ubun-ubun’ berada Vairocana Buddha dan Buddhamatri, di ‘cakra tenggorokan’ berada Buddha Amitabha dan Buddhamatri, di ‘cakra hati’ berada Buddha Aksobhya dan Buddhamatri, di ‘cakra pusar’ terdapat Buddha Ratnasambhava dan Buddhamatri, di ‘cakra reproduksi’ (mencakup 4 anggota badan) berada Buddha Amoghasiddhi dan Buddhamatri.

Ketika menerima abhiseka, memvisualisasikan Buddhapitri (Red: Fo-fu/The Father of all Buddhas) dan Buddhamatri (Red: Fo-mu/The Mother of all Buddhas) dari Panca Cakra mengalirkan air amerta, mengabhisekakan seluruh badan, membuat kekotoran pikiran-perkataan-perbuatan sadhaka, beserta prana-nadi-bindu seluruh-luruhnya memperoleh penyucian, ini adalah abhiseka sadhana dzogchen yang sangat penting.

Panca Buddha adalah Guru Sesepuh generasi kedua dari Sadhana Dzogchen, menekuni sadhana dzogchen hendaklah sangat intim berhubungan erat dengan Panca Buddha, di setiap waktu tak pernah terpisahkan.

Saturday, August 17, 2013

【Warta Upacara Homa Dharmaraja Lian Sheng 4 Agustus】Pelindung Dharma Terunggul Veda Dharmapala, Makna Mendalam ‘Nyingthig’ Seri Mennagde Sadhana Dzogchen

【盧勝彥尊者8月4日護摩新聞】韋陀尊天護法勝,大圓滿【口部】寧提奧義深
【Warta Upacara Homa Dharmaraja Lian Sheng 4 Agustus】Pelindung Dharma Terunggul Veda Dharmapala, Makna Mendalam ‘Nyingthig’ Seri Mennagde Sadhana Dzogchen


Yang Mulia Dharmaraja Lian Sheng pernah membabarkan --- Riwayat asal nan hebat Veda Dharmapala : “Tiada insan yang tidak mengenali Bodhisattva Veda Dharmapala, tiada yang tidak mengetahui, tanganNya memegang Tongkat Vajra Penakluk Mara, ada pratimaNya, ada mantra hatiNya, ada mudraNya, maka terwujudlah sebuah tata ritual penekunan Sadhana.”

“Dimanakah letak kemuliaan Veda Dharmapala? Penuturan ringkasnya, kelak di masa seribu Buddha Bhadra Kalpa (未來賢劫千佛) , Buddha yang Pertama dari angkatan pertama seribu Buddha adalah “Buddha Padmaprabha” (華光佛: Hua Guang Fo). Seribu Buddha angkatan kedua, Buddha yang Pertama, adalah bergelar “Buddha Rudita”. (樓至佛: Lou Zhi Fo) , banyak yang tidak tahu siapakah Buddha Rudita, Ia yakni adalah “Bodhisattva Veda Dharmapala”. Seribu Buddha angkatan ketiga, Adinata Pertama, Buddha Rudita adalah Maitreya Bodhisattva --- Buddha Maitreya. Jadi asalNya sangat agung.”

“Bodhisattva Veda Dharmapala kelak di masa mendatang adalah Buddha Rudita, jadi akan mencapai keBuddhaan, tiada sesuatu yang tidak dicakupiNya. Ia mampu memberi adisthana perlindungan terhadap setiap insan, bertubuh sehat; segala persoalan apapun, lancar terkabulkan sesuai niat hati; Ia mampu menjemput arwah makhluk alam baka, agar diseberangkan ke alam suci Buddha Loka; Ia memancarkan cahaya adisthana kepada kita semua sehingga memperoleh berkah rejeki dan penambahan kebijaksanaan, menyempurnakan aspek kewibawaan dan cinta kasih; Di saat bersamaan, Tongkat Penakluk Mara Bodhisattva Veda Dharmapala, mampu melenyapkan seluruh rintangan permusuhan, segala arwah penagih hutang di sekeliling , semuanya buyar sirna.”

Mantra hati Bodhisattva Veda : “Om. Wei Tho Thian To. Ma Ha Thian Tho. So Ha.”


Friday, August 16, 2013

【Warta Upacara Homa Dharmaraja Lian Sheng 3 Agustus】Bhaisajyaguru Buddha di Masa Lampau Menampilkan Mukjizat, Makna Mendalam “Mennagde” beserta penyucian tubuh, ucapan, dan pikiran; Secara Alamiah Akan Menembusi Cahaya Terang Nadi Tengah

【盧勝彥尊者8月3日開示新聞】藥師佛昔日現神蹟,【口部】奧義與身口意清淨,自然通中脈光明。
【Warta Upacara Homa Dharmaraja Lian Sheng 3 Agustus】Bhaisajyaguru Buddha di Masa Lampau Menampilkan Mukjizat, Makna Mendalam “Mennagde” beserta penyucian tubuh, ucapan, dan pikiran; Secara Alamiah Akan Menembusi Cahaya Terang Nadi Tengah


(Warta TBSky/Liputan oleh V.A Hui Jun) Buddha Bhaisajyaguru Vaidurya Prabharaja adalah Buddha Raja Pengobatan, demi menolong penderitaan penyakit segenap insan, ikrar Buddha ini sangat agung dan karya luhur, Tanah Suci Buddha Bhaisajayaguru berada di bagian timur gunung Semeru, yakni Vaiduryanirbhasa (Red: Surga Lazuardi), Tanah Suci Buddha yang dipenuhi kemuliaan nan agung. Sadhaka Tantrayana apabila menekuni adinata Buddha Bhaisajyaguru, tidak hanya bisa menolong segenap insan, namun kelak juga akan terlahirkan ke Tanah Suci Sang Adinata, kemudian mencapai keBuddhaan dalam tubuh sekarang.

Metode pengobatan penyakit Buddha Bhaisajyaguru Vaidurya Prabharaja, terutama terletak pada pemancaran cahaya biru putih, visualisasi menyentuh seluruh pakaian beserta makanan penderita penyakit, metode ini merupakan pokok rahasia untuk menolong penderita penyakit.

Sebenarnya berkenaan akan Dharma Tantra adinata Buddha Bhaisajyaguru, tidak semata-mata menyembuhkan penyakit saja, tetapi dapat pula menundukkan rintangan Mara, menyingkirkan segala rintangan perseteruan. Maha Sadhana Bhaisajyaguru Buddha adalah “Sapta Buddha Bhaisajyaguru Panca Mandala Sadhana” (七佛藥師五壇修法). Sadhana ini merupakan salah satu daripada empat Maha Sadhana Tantra aliran Tendai Jepang (Red : Taimitsu) , Panca Mandala tersebut antara lain : Maha Arya Acala Vidyaraja di bagian tengah, Kundali Yaksha Vidyaraja di bagian selatan, Vajra Yaksha Vidyaraja di bagian utara, Trailokya Vijaya Vidyaraja di bagian timur, Maha Yamantaka Vidyaraja di bagian barat. Sadhana ini merupakan Maha Sadhana tiada banding, merupakan maha sadhana untuk menolong negara dan rakyat.


Friday, August 9, 2013

【Warta Upacara Homa Dharmaraja Lian Sheng 28 Juli】Arya Mahakala mampu membuyarkan derita penyakit dewa dan hantu, Dharma Tantra “Longde” Cahaya Terang Bebas Leluasa!

【盧勝彥尊者 7月28日護摩新聞】大黑天能令鬼神病退散, 【界部】密法光明自在! 
【Warta Upacara Homa Dharmaraja Lian Sheng 28 Juli】Arya Mahakala mampu membuyarkan derita penyakit dewa dan hantu, Dharma Tantra “Longde” Cahaya Terang Bebas Leluasa!


(Warta TBSky/Liputan oleh V.A Lianhua Hui Jun) Wujud Sang Arya Mahakala (Daheitian) ada yang berlengan dua, berlengan empat, berlengan enam, merupakan dewa pelindung Dharma Trimula : Acarya, Yidam dan Dharmapala. Mantra hati Mahakala : “Om. Ma Ha Ka La Ya. So Ha.”

Mahakala merupakan Dharmapala terutama di aliran Tantrayana Tibet, para sadhaka penekun agama Buddha Tantrayana, yang dengan tulus hormat melantunkan syair puji-pujian serta setiap hari mempersembahkan pujana, maka sepanjang hari akan memperoleh perlindungan tak terputuskan, dapat melenyapkan semua rintangan karma buruk di dalam penekunan Buddha Dharma dan pada kehidupan duniawi beserta kemelaratan, menghancurkan segala sihir dan kutukan mantra jahat, beserta petaka rintangan Mara dan bahaya ancaman pihak jahat, dan pelenyapan semua rintangan internal, eksternal dan rintangan guhya (rahasia) sadhaka, memperoleh keberhasilan Santika, Paustika, Vasikaruna dan Abhicaruka. Memperpanjang berkah dan usia, pemenuhan kewibawaan, nama terpandang, kesejahteraan harta benda, ketenteraman dan kesejahteraan di dalam keluarga, pahala agung yang menggenapi seluruh permohonan bajik insan dengan sempurna.

Cara mempersemayamkan Arya Mahakala : Terlebih dahulu mempersiapkan pratima Arya Mahakala di rumah. Sadhaka memilih hari “Chu” (除日). Setelah lewat tengah hari, di atas altar letakkan bahan persembahan, kemudian menyalakan dupa bernamaskara, menjapa mantra dengan hati tulus memohon “Arya Mahakala” turun ke altar rumah sendiri, kemudian pratima Mahakala ditempatkan tengah-tengah di atas balok pintu utama.

Friday, August 2, 2013

《Dharmadesana Y.A Sheng-Yen Lu 27 Juli~Warta TBSky》 Dharmaraja Lian Sheng mengulas makna terdalam “Semde” dan rahasia tubuh manifestasi cahaya pelangi!

《盧勝彥尊者7月27日週末開示~真佛天空新聞報》蓮生活佛談[心部]奧義與虹光化身秘密!
Dharmadesana Y.A Sheng-Yen Lu 27 Juli~Warta TBSky Dharmaraja Lian Sheng mengulas makna terdalam “Semde” dan rahasia tubuh manifestasi cahaya pelangi!


(TBSky/Liputan oleh V.A Hui Jun) Kunci daripada adinata Padmakumara, berada pada “akar terutama”, andaikata ditinggalkan, maka adalah perbuatan adharmika - 不如法 (Red : bu-ru-fa/bertentangan Dharma), maka sirnalah daya adisthana silsilah. Dan hanya melalui penekunan yang bersesuaian dengan Dharma, barulah bisa tiba ke  alam Mahapadmini Loka surga barat Sukhavatiloka, aspek ini merupakan akar terutama yang paling penting. (kutipan dari buku “Zhenfo Fa Zhong Fa”)

Pada tanggal 27 Juli 2013 Yang Mulia Dharmaraja Lian Sheng memimpin sadhana “Padmakumara Mulacarya Guru Yoga” bertempat di Seattle Ling Shen Ching Tze Temple. Mengenai makna nama agung adinata, Yang Mulia memberitahu para umat : “Istilah ‘Kumara’ bukanlah sebagai ‘bocah kecil’ melainkan merujuk atas makna ‘Bodhisattva’, sebagai perlambang kelurusan batin nan suci murni. Istilah ‘Kumara’ di dalam kitab Sutra, ‘Mahasattva’ menandakan sebagai Bodhisattva, diri sendiri tercerahkan serta berkemampuan membimbing insan menuju pencerahan, sifat maitri-karuna-mudita-upeksa yang tidak terbatas, menekuni Karya Bodhicitta - 行菩提 (bodhiprasthita), Ikrar Bodhicitta - 願菩提 (bodhipranidhicitta), menolong tanpa mengharap pamrih. Sebuah adagium Tiongkok : “bocah memandangi lukisan” mengumpamakan sebagai mampu menjelajahi segala perkara keduniawian tetapi sebaliknya tidak melekat kepadanya!