Showing posts with label Dharmadesana Mulacarya. Show all posts
Showing posts with label Dharmadesana Mulacarya. Show all posts

Wednesday, November 13, 2013

Kutipan Dharmadesana Maha Guru Lian Sheng di Seattle sebelum berkunjung ke Taiwan


(本報訊/蓮花慧君報導)2013年11月9日,聖尊蓮生活佛盧勝彥於西雅圖網雷藏寺主持同修《黃財神本尊法》。
(Warta TBSky/Liputan oleh V.A Huijun) Pada tanggal 9 November 2013, Yang Mulia Dharmaraja Liansheng Sheng-yen Lu bertempat di Seattle Ling Shen Ching Tze Temple pada kegiatan pujabhakti bersama telah memimpin “Sadhana Jambhala Kuning”.

Maha Guru melimpahkan parinamana : “Mengundang Panca Buddha menjemput makhluk alam bardo, kepada segenap insan yang memperoleh penyakit  selekasnya memperoleh kesembuhan, menghindarkan malapetaka, mengikiskan rintangan karmawarana, mengundang kehadiran Jambhala Kuning memancarkan cahaya kuning agar segenap umat memperoleh peningkatan bekal berkah dan kebijaksanaan, seluruh peserta memperoleh keadaan manggala, pancarkan cahaya kesempurnaan cinta kasih, mengundang kehadiran Catur Maharajakayika mengadisthana segenap umat memperoleh kesucian bebas leluasa!”

True Buddha Vajrayana Association of R.O.C, Taiwan Lei Tshang Temple, serta tempat ibadah lainnya, melaksanakan seremonial permohonan kepada Maha Guru melawat Taiwan untuk memutar Roda Dharma Agung, dengan persembahan Hatta yang diwakili oleh Acarya Lian Ou, Acarya Lian Zhe, dan Acarya Lian Ying.  

Kepala Vihara Ling Shen Ching Tze Temple yaitu Acarya Lianhua Dehui membacakan kata-kata yang mengungkapkan ketidakrelaan hati yang mengharukan terhadap perpisahan ini :

Hari ini adalah hari terakhir selama sepanjang tahun Maha Guru menghadiri pujabhakti di Ling Shen Ching Tze Temple, sungguh berterimakasih tak terhingga atas kehadiran Maha Guru dan Guru Dhara selama 184 hari di Seattle Ling Shen Ching Tze Temple, . . . . Maha Guru pernah berkata : Ketika daun Maple memerah itulah tanda saat-saat perpisahan telah tiba…. Maka biarlah rasa kerinduan di dalam hati kami ini menjelma menjadi awan-awan melayang, terbang melayang hingga jatuh di atas tubuh Engkau, Maha Guru dan Guru Dhara, mohon kepergian kali ini tidak begitu lama, mohon kiranya lekas pulang kembali!....

Seiring kata-kata perpisahan yang dibacakan Acarya Lianhua Dehui, para umat yang berada di ruangan bhaktisala trenyuh dalam rasa kerinduan mendalam….

Kemudian, Yang Mulia Dharmaraja Liansheng Sheng-yen Lu dengan suara haru mengungkapkan : Ketika seseorang hendak meninggalkan sebuah tempat, tentu ada suatu perasaan khusus mengiringinya. Seandainya jarak antara Seattle dan Taiwan hanya terpisah 3 jam saja, maka perjalanan pulang pergi pun tentu sangat cepat, tetapi kenyataannya jarak antara dua daratan terpisah nan jauh, …. Sewajarnya ada perasaan bersedih.

Semua peristiwa pada kehidupan manusia, tidak terlepas dari fenomena perpisahan apakah semasa hidup ataupun perpisahan kala kematian menjemput, banyak sekali hal yang membuat tidak sampai hati untuk merelakan, anda semua biasanya melihat Maha Guru gemar bercanda dan penuh keriangan, namun ada kalanya pula ada saat yang dipenuhi dengan perasaan mendalam. Berpisah dari setiap paras wajah anda sekalian yang sudah familiar, tentu bersedih juga…

Semula saya sejak kemarin telah merenung satu malam, apa sebaiknya saya pada malam ini juga mengumumkan sejak saat ini dan seterusnya akan kembali pada pertapaan mengundurkan diri ke hutan belantara (seluruh umat yang hadir berteriak : Jangan…!), tetapi Mahadewi Yaochi Jinmu berkata : “Waktunya belum tiba!” Tadi sewaktu menaiki Dharmasana, saya kembali berkata kepada Jinmu : Saya mau melepaskan seluruhnya, akan tetapi Jinmu tetap saja mengatakan : “Waktunya belum tiba!”

Friday, November 1, 2013

Pada sadhana Dzogchen hati tanpa ambisi adalah sebuah keutamaan dalam pelatihan Bhavana!

《盧勝彥尊者 10月27日開示新聞 》聖尊蓮生活佛闡釋《大圓滿<攝帶>》,無企圖心者修行是主要!
《Warta Dharmadesana Arya Sheng-yen Lu 27 Oktober 2013》Arya Dharmaraja Lian Sheng membabarkan metode Penyerap dan Penuntun pada sadhana Dzogchen, hati tanpa ambisi adalah sebuah keutamaan dalam pelatihan Bhavana!

(TBSky/Laporan oleh V.A Huijun) Maha Mayuri Vidyarajni mengenakan mahkota Vairocana Tathagata, empat lengan berwarna emas atau putih ataupun penggabungan warna emas dan putih, di atas kepala mengenakan mahkota Panca Buddha.

Lengan kanan pertama memegang Teratai Putih, lengan kanan kedua memegang buah Matulunga berwarna merah (Red : buah penjalin jodoh baik/俱緣果) ; lengan kiri pertama memegang buah Bilva berwarna kuning (Red : buah sejahtera/吉祥果), lengan kiri kedua memegang bulu merak.


Maha Mayuri Vidyarajni menyimbolkan Tiga Tathagata :

Maha Mayuri Vidyarajni adalah Wujud Penikmatan (Red: Sambhoga-kaya) Buddha Sakyamuni, karena pada kelahiran lampau Buddha Sakyamuni, ada sebuah kehidupan dimana Ia menjadi Raja Merak, jadi merupakan tubuh Sambhogakaya Buddha Sakyamuni.

Maha Mayuri Vidyarajni adalah Wujud Penjelmaan (Red: Nirmana-kaya) Buddha Amitabha, pada Sutra Amitabha tertera bahwa di alam suci Sukhavatiloka terdapat Jivamjivaka (Red: burung berjiwa kolektif/共命之鳥), terdapat burung merak, burung nuri, burung Kalavinka, salah satu daripadanya yaitu Merak merupakan wujud penjelmaan Buddha Amitabha.

Tathagata Vairocana sendiri mengenakan mahkota Panca Buddha, dengan paras nan agung, seluruh paras wajah Beliau merupakan paras wajah Maha Mayuri Vidyarajni. Maha Mayuri Vidyarajni adalah Wujud Emanasi (Red: Nisyanda-kaya) Vairocana Tathagata, wujud yang sama setara, jadi Ia merupakan wujud transformasi utama dari penggabungan Tiga sosok Buddha.

Pot Abhiseka pada aliran Tantrayana, pasti ditancapkan sebatang bulu merak, yang menandakan manifestasi Pot Abhiseka tersebut, sepenuhnya adalah wujud penjelmaan Maha Mayuri Vidyarajni, dengan kata lain Pot Abhiseka tidak lain adalah wujud penjelmaan daripada Maha Mayuri Vidyarajni.

Oleh karena terdapat daya kekuatan Dharmabala Tiga Buddha yang tergabung bersama-sama, maka Maha Mayuri Vidyarajni mampu mengalihkan karma tetap, suratan takdir yang sukar dihindarkan sekalipun bisa dialihkan.

Untuk itu Kekuatan Maha Mayuri Vidyarajni sungguh Agung nan Perkasa.

“Sutra Mahamayuri Vidyarajni” mencatat, semasa Buddha hidup di dunia, ada seorang bhiksu bernama Svati mendapat gigitan ular beracun, penderitaan sakit tak terkira, ketika Ananda melaporkan hal ini kepada Buddha, Sang Buddha kemudian mengajarkan sebuah metode pelatihan yang dapat melenyapkan gangguan makhluk setan dan hantu, dicelakai racun, dan penyakit berbahaya.


Dari segenap Vidyaraja, hanyalah Maha Mayuri Vidyarajni yang menampilkan wujud keelokan nan welas asih, tergolong sebagai Vidyaraja pada sisi maternal Tantrayana, Ia memiliki Empat lengan :

Lengan kanan pertama memegang teratai putih, menyimbolkan “Santika” (pelenyapan segala malapetaka);

Lengan kiri pertama memegang buah Bilva berwarna kuning, menyimbolkan “Paustika” (peningkatan segala berkah);

Lengan kanan kedua memegang buah Matulunga berwarna merah, menyimbolkan “Vasikarana” (penyempurnaan segala jalinan jodoh);

Lengan kiri kedua memegang bulu merak beraneka warna, memakan habis segala racun di tubuh, menetralisir racun, menyimbolkan “Abhicaruka” (menundukkan segala rintangan Mara), bisa mengadisthana sadhaka supaya panjang umur berbadan sehat.

Jadi, empat lengan Maha Mayuri Vidyarajni menyimbolkan tolak bala, peningkatan berkah, penundukan, dan cinta kasih. Segala harapan pada alam duniawi berada di genggaman tanganNya, untuk Adinata ini bisa dilaksanakan Sadhana Karman yang berupa : Santika, Paustika, Vasikarana dan Abhicaruka.

Bunyi pelafalan mantra Catur Sarana pada sadhana ini agak berbeda dengan mantra Catur Sarana kita.

“Nama Guruphe”, ini bermakna bersarana kepada Maha Mula Acarya;
“Namo-Da-Kong-Que-Ming-Wang-Fo”, ini bermakna bersarana kepada Buddha;

“Namo-Da-Kong-Que-Ming-Wang-Jing”, ini bermakna bersarana kepada Kitab Sutra “Mahamayuri Vidyarajni”, yang sama bermakna sebagai bersarana kepada Dharma;

“Namo-Kong-Que-Ming-Wang-Hai-Hui-Juan-Shu”, ‘Hai-Hui-Juan-Shu’ adalah bersarana kepada Sangha, kepada segenap makhluk suci yang banyaknya bagaikan samudera yang menghadiri Pesamuan Agung Mahamayuri. Makhluk suci yang berada pada Pesamuan Agung Mahamayuri diantaranya ada : 7 Buddha di masa lampau, di titik sentral terdapat Maitreya, di sisi kiri dan sisi kanan terdapat Pratyeka dan Sravaka, 8 Dewaraja Langit, 28 Yaksha (konstelasi bintang), Navagraha (Red: Rsi 9 Planet/九曜), 12 Rasi Bintang (十二宮), seluruhnya adalah makhluk suci penyerta Mahamayuri Vidyarajni.

Genap penjapaan 600.000 kali mantra hati Mahamayuri Vidyarajni, pasti terlahirkan ke alam suci Maha Padminiloka.

Thursday, October 31, 2013

Penyingkapan Rahasia Agung makna penglihatan Buddha Sakyamuni terhadap Bintang Timur Cemerlang!



《盧勝彥尊者 10月26日開示新聞 》釋迦牟尼佛見東方明星大揭秘!
大圓滿法中《觀星》證通身是眼!
  【Warta Dharmadesana Arya Sheng-yen Lu 26 Okt 2013】Penyingkapan Rahasia Agung makna penglihatan Buddha Sakyamuni terhadap Bintang Timur Cemerlang!

“Visualisasi Bintang” pada sadhana Dzogchen memperoleh Siddhi Mata di segenap tubuh!

(Warta TBSky/Laporan oleh V.A Huijun) Tanggal 26 Oktober 2013, Yang Mulia Dharmaraja Liansheng Sheng-yen Lu memimpin sadhana bersama Ksitigarbha Bodhisattva di Seattle Ling Shen Ching Tze Temple.

Maha Guru Dharmaraja Lian Sheng mendedikasikan pelimpahan jasa pahala khusus untuk seluruh umat hadirin : “Menghaturkan penghormatan Namaskara kepada Maha Pranidhana Ksitigarbha Bodhisattva, memohon Bodhisattva mengadisthana pengikisan seluruh karma buruk segenap insan, meningkatkan perbuatan kebajikan, untuk memperagung Negeri Buddha, menyirnakan segala malapetaka, meningkatkan buah berkah, membuyarkan segala derita penyakit, Ikrar Agung dapat dituntaskan, Neraka selekasnya menjadi kosong.”

Ksitigarbha Bodhisattva adalah salah satu Yidam Maha Guru Lian Sheng, pengucapan parinamana khusus oleh Yang Arya Dharmaraja Lian Sheng supaya Neraka selekasnya kosong diatas, sejatinya mengandung makna rahasia yang gemilang!

Hari ini bertepatan dengan upacara kelulusan seminar pendidikan Bhiksu Lama periode ke-29 yang diselenggarakan oleh Seattle Ling Sheng Ching Tze Temple, para Bhiksu Lama peserta seminar menghaturkan sembah sujud penghormatan kepada Maha Guru dan kemudian membagikan pengalaman selama mengikuti seminar pendidikan tersebut. Terimakasih tak terhingga kepada Maha Guru Lian Sheng yang telah mengadisthana para bhiksu lama sehingga para peserta dapat menyelesaikan materi pendidikan dalam tempo yang singkat selama 2 bulan, serta terimakasih kepada panitia dari Vihara Seattle yang telah mengorganisir kegiatan ini dengan seksama. Pada hari bersamaan, Maha Guru secara khusus memberikan sertifikat kelulusan kepada Bhiksu Lama sejumlah 4 orang.

Maha Guru Lian Sheng membabarkan : “Ksitigarbha Bodhisattva memiliki sebuah Ikrar : Jika Neraka tidak kosong, sebenarnya Ia tidak hanya berada di Neraka saja, sesungguhnya di segenap Alam (Dharmadatu) ada kehadiran Sang Bodhisattva, dan Ksitigarbha Bodhisattva memiliki sebuah Alam Suci di Neraka yang bernama Cuiwei-Jingtu (Red: Tanah Suci Zamrud nan Elok/翠微淨土), oleh karena Maha Pranidhana (Red: Ikrar Agung) Bodhisattva : ‘Neraka belum kosong berikrar tidak mencapai keBuddhaan, Segenap Insan terselamatkan barulah mencapai Realisasi Bodhi’, maka Ia telah mengucapkan Ikrar sebagai Yang Terakhir untuk mencapai keBuddhaan.”

Arya Dharmaraja Lian Sheng selanjutnya menerangkan ada 3 jenis corak pencapaian keBuddhaan :

1. Corak Raja : Ia terlebih dahulu mencapai keBuddhaan dan dikemudian harinya menyelamatkan insan, seperti Buddha Sakyamuni.

2. Corak Bahtera : Ia mencapai keBuddhaan dan insan juga mencapai keBuddhaan, ibarat berada di atas Bahtera Dharma bersama-sama.

3. Corak Penggembala : Seperti Ksitigarbha Bodhisattva, insan mencapai keBuddhaan terlebih dahulu barulah Ia mencapai keBuddhaan.

Arya Dharmaraja menerangkan lebih lanjut : Seorang yang Tercerahkan akan lebih memahami realisasi Sang Ksitigarbha Bodhisattva. Ini merupakan cara penuturan dengan metode upaya-kausalya.

Ksitigarbha Bodhisattva adalah manifestasi Padmakumara Emas, Ia ada hadir ketika kegiatan sadhana sedang berlangsung tadi. (Umat yang mendengarkan, bertepuk tangan meriah.)

Pada setiap kali kegiatan sadhana bersama, Maha Guru merasakan kontak spiritual daya rohani, bagaikan energi listrik yang saling berinteraksi, sekarang di Seattle Ling Shen Ching Tze Temple pada setiap hari Senin hingga hari Jumat membacakan Sutra dan melafalkan nama Buddha, selama bervisualisasi Buddha Amitabha menetap di ubun-ubun kepala ataupun sewaktu bervisualisasi keagungan tubuh menjulang Sambhogakaya Buddha, dengan sepenuh hati memvisualisasikan maka untuk kondisi seperti ini Buddha Amitabha pasti akan turun dari langit.

Hari ini dengan hadirnya Ksitigarbha Bodhisattva, saya memohon supaya Neraka selekasnya menjadi kosong, maka Ia segera akan mencapai keBuddhaaan. Di masa kini jika menyalakan siaran televisi, tak habis pikir ternyata ada orang dengan tanpa berpikir panjang mencelakai orang, terhadap sesamanya yang tiada ikatan dendam apapun juga dicelakai. Ada orang yang belum tentu mencelakai orang dengan menggunakan pisau dan senapan, akan tetapi dengan memakai mulut pun juga bisa mencelakai orang.

Untuk itu, siswa Buddha tidak boleh mencelakai sesamanya, seharusnya memiliki hati yang lemah lembut, Buddha Sakyamuni mengajarkan insan untuk memiliki hati yang lemah lembut, belajar merendahkan diri, di ajaran agama lain pun ada juga pengajaran demikian. Banyak sekali hal yang belum tentu seperti apa yang kita pikirkan, ada kalanya jika dipikirkan dari sudut pandang lain, belum tentu kondisinya seburuk demikian, hendaknya menerapkan disiplin yang ketat terhadap diri sendiri akan tetapi sebaliknya bersikap toleran terhadap orang lain, jangan pernah mencelakai orang lain. Tingkat pertama dari “Tingkatan sadhana Dzogchen” adalah ‘Sravayakana’, yang meskipun melatih bhavana secara individual, namun tidak akan melakukan perbuatan melukai orang lain. Kemudian ketika meneruskan pendalaman ke tingkat pelatihan selanjutnya yakni tingkatan Bodhisattva, bukan hanya saja tidak akan melukai orang akan tetapi turut disertai juga dengan pertolongan kepada orang lain.

Arya Dharmaraja Lian Sheng menyertakan sebuah contoh : ada seorang wanita menulis surat memohon kepada Maha Guru untuk menuliskan selembar Hu, supaya suaminya sendiri tidak akan berpaling kepada wanita lain.

Terhadap permohonan seperti ini, Maha Guru mengutarakan sebuah kesan : Insan pada umumnya hanya memikirkan diri sendiri, ada kalanya semestinya memikirkan orang lain juga. Pada kenyataannya ‘Hu’ semacam ini tidak ada, seyogyanya batin sendiri diluruskan, janganlah memiliki hati yang dicemari niat jahat.

Selanjutnya, Arya Dharmaraja menjelaskan “Visualisasi Bintang” pada Sadhana Dzogchen yang luar biasa :

Ketika Buddha Sakyamuni memperoleh Penerangan Agung, menjelang fajar mulai menyingsing, Ia menyaksikan Bintang Timur bersinar cemerlang di ufuk langit, kemudian ia pun memperoleh Pencerahan Sempurna. Sebenarnya adalah Buddha Sakyamuni pada pemandangan langit malam tersebut telah menyaksikan bintang-bintang internal di dalam tubuhNya sendiri, bahwasanya Ia telah melihat Buddhata-Nya, yakni fenomena Pencapaian keBuddhaan.

Bintang adalah letak Alam Suci Akasagarbha Bodhisattva. Master Kukai (空海大師) menekuni metode bhavana : Kokūzō-gumonjihō (虚空蔵求聞持法) , dari angkasa ada sebuah bintang masuk ke dalam mulutnya sehingga terjadi pembangkitan Kebijaksanaan Agung, terlebih terhadap segenap isi Kitab Sutra dalam sekali baca tidak akan terlupakan.

Monday, October 21, 2013

【Warta Dharmadesana Arya Sheng-yen Lu 19 Oktober 2013】Pemeroleh keberhasilan Dzogchen mencapai Empat Fenomena Batin.


【盧勝彥尊者10月19日開示新聞】大圓滿法成就者證四現象。
【Warta Dharmadesana Arya Sheng-yen Lu 19 Oktober 2013】Pemeroleh keberhasilan Dzogchen mencapai Empat Fenomena Batin.

Arya Maha Guru Dharmaraja Liansheng Sheng-yen Lu pada tanggal 19 Oktober 2013 memimpin pujabhakti bersama “Sadhana Adinata Avalokitesvara Bodhisattva” di Seattle Ling Shen Ching Tze Temple.

Berikut adalah intisari Dharmadesana Maha Guru :

Avalokitesvara Bodhisattva adalah sesosok Bodhisattva yang penuh Maitri Karuna, Ia mempunyai banyak tubuh penjelmaan, kisah-kisah pertolonganNya kepada insan manusia sangat banyak beredar. Pada masa dahulu kala sebenarnya Ia adalah sesosok Buddha, bergelar Tathagata Zhengfa Ming (正法明如来/Zhengfa Ming Rulai), kemudian oleh sebab melaksanakan karya pertolongan kepada insan sehingga Ia menjadi sosok Bodhisattva yang memanifestasikan banyak ragam wujud rupa. Ia mempunyai penjelmaan tubuh yang tak terhingga, Ia senantiasa berada di alam duniawi, dan tidak pernah meninggalkan alam fana ini untuk menolong insan dunia Saha. Bodhimanda tempat ibadah pemujaanNya terutama berada di Tibet, yang selanjutnya kembali memanifestasikan tubuh jelmaan tak terhingga ke berbagai penjuru dunia demi menolong insan.

Di dalam bhaktisala Vihara telah hadir Shellyann shijie : seorang saudari se-Dharma tunanetra yang berasal dari Toronto - Canada, Shellyann shijie berdiri dari tempat duduk kemudian menceritakan bahwa seusai memperoleh adisthana dari Yang Mulia Maha Guru, ia merasakan sebentuk energi hangat mengalir dari ubun-ubun kepala hingga terus beredar ke seluruh tubuhnya, dan kini kedua matanya pun sudah bisa melihat cahaya, yang dulunya hanya sekedar pandangan gelap gulita.

Yang Mulia Maha Guru berkata ini adalah pemberkatan Bodhisattva Avalokitesvara Berjubah Putih. Sewaktu kita melafalkan “Da Chi Da Bei Guanshiyin Phusa” hendaklah melengkapinya dengan kalimat “Guang Da Ling Gan” karena kuasa pertolonganNya sangat nyata .

Terdapat 4 fenomena batin untuk pemeroleh keberhasilan Dzogchen :

1. Keseimbangan batin, mampu meneduhkan batin dengan keheningan untuk memusatkan pikiran - tiada pikiran semu. Bisa hidup dengan sebatang kara, tak menyoal apakah di hutan belantara, ataupun berada di pusat hiburan di tengah keramaian orang, lubuk batin seorang Siddha senantiasa berada dalam keheningan, ia mempunyai bentuk kekuatan ini. Selama pikiran dapat terpusat, Buddha berkata tiada apapun yang tak dapat direalisasikan, apabila pikiran tidak dapat terpusat maka hal secuil apapun tidak akan bisa terwujud, oleh sebab tidak dipunyainya kuasa pemusatan pikiran. Batin insan senantiasa dalam ketidakseimbangan, karena konsentrasi mudah bercabang sehingga menjadikan pikiran berserakan. Daya konsentrasi untuk sebagian besar orang mudah terpecah-belah, alhasil tidak mampu memusatkan pikiran.

2. Tiada Kegentaran. Setelah penyaksian cahaya pada tahap Togal, pemahaman terhadap makna Buddhata dapat menghasilkan tiada kegentaran, tidak mementingkan diri sendiri yang bahkan kematian pun tidak ditakuti. Karena mengetahui apa hakikat kelahiran/kematian, mengetahui apakah makna terutama kehidupan di alam duniawi ini, memahami semua seluk-beluk kehidupan, terhadap apa saja tiada ketakutan. Tiada takut akan kematian karena mampu menuju Buddhaloka, derita penyakit juga tidak dihiraukan oleh karena memahami sedang menuntaskan buah karmavipaka penyakit, berusia lanjut pun tidak bermasalah.

3. Tanpa kerisauan dan kegundahan batin, setiap hari penuh sukacita, disebabkan ketenteraman rohani oleh Buddha Dharma berada pada tubuh, melayang-layang nan bebas leluasa, tubuh bagaikan sebuah panah terbang membumbung ke atas angkasa, bagaikan awan yang terbang mengawang-awang di atas cakrawala angkasa. Karena didalam tubuh terdapat api kundalini dan prana yang berkepenuhan, nadi tengah telah ditembusi; api kundalini, prana, bindu beredar di nadi tengah, setiap saat berbahagia dalam kehangatan. Kondisi ini merupakan kebahagiaan terunggul sehingga setiap hari senantiasa bergembira hati dan berbahagia.

Thursday, October 17, 2013

【Warta Dharmadesana Arya Sheng-yen Lu 12 Oktober】Arya Dharmaraja Liansheng Sheng-yen Lu pada hari Sabtu 12 Oktober 2013 bertempat di Seattle Ling Shen Ching Tze Temple memimpin “Sadhana Adinata Buddha Amitabha”, dan mengajarkan “Sadhana 9 Tingkat Dzogchen”.


【盧勝彥尊者10月12日開示新聞】2013年10月12日(星期六)聖尊蓮生活佛 盧勝彥法王於〈西雅圖雷藏寺〉主持「阿彌陀佛本尊法」,講授「大圓滿九次第法」。
【Warta Dharmadesana Arya Sheng-yen Lu 12 Oktober】Arya Dharmaraja Liansheng Sheng-yen Lu pada hari Sabtu 12 Oktober 2013 bertempat di Seattle Ling Shen Ching Tze Temple memimpin “Sadhana Adinata Buddha Amitabha”, dan mengajarkan “Sadhana 9 Tingkat Dzogchen”.

Usai sadhana bersama, Arya Dharmaraja Lian Sheng terlebih dahulu memberikan sembah hormat kepada para Guru Silsilah, kemudian menyapa seluruh jajaran Dharmaduta, tamu-tamu terhormat beserta seluruh umat dan simpatisan di internet kemudian memberikan babaran Dharma : Makna Rahasia dari Buddha Amitabha ialah “Cahaya Tak Terhingga”, “Usia Tak Terhingga”, dan Buddha Amitabha adalah sesosok Adinata yang paling ternama, diketahui oleh setiap orang; Anggota Sangha apabila saling bersua memakai lafalan “Amituofo” sebagai salam saling menyapa; demikian pula Tanah Suci Hyang Buddha Amitabha pun ialah yang paling indah, dan Tanah Suci yang paling ternama.

Semasa melafalkan nama Buddha, hendaklah melafalkan Amituofo, dan hendaklah juga melafalkan nama dua penyerta suci “Avalokitesvara Bodhisattva” dan “Mahasthamaprapta Bodhisattva”, inilah Tiga Suciwan dari Alam Barat.

Pintu penekunan penjapaan nama Buddha milik “Aliran Tanah Suci”, memprioritaskan kepada Maha Sadhana Amitabha, yakni pendarasan nama Budha, yang dikenal juga sebagai Jalan Penekunan termudah. Salah satu cara mudah mendaraskan nama Buddha - - menarik napas kemudian mendaraskan nama Buddha sampai napas dihembuskan, dilakukan hingga total sebanyak 10 kali, inilah yang disebut sebagai “Sadhana Sepuluh Penjapaan”.

Adapun pada pelafalan nama Buddha ada yang berupa pelafalan empat aksara, dan ada pula pelafalan enam aksara, Arya Dharmaraja Lian Sheng memperagakan beberapa jenis pelantunan japa nama Buddha, kemudian menjelaskan kepada semua umat, bahwa jenis pelantunan seperti apa yang paling anda sukai, maka bisa menggunakan jenis pelantunan tersebut.

Arya Dharmaraja Lian Sheng mengajarkan umat cara menjapa nama Buddha, jika penjapaan di alam terbuka, boleh bervisualisasi Buddha Amitabha menjulang bagaikan pohon pinus, bahkan tingginya hingga mencapai langit, sembari menjapa nama Buddha, sembari memvisualisasikan wujud agung Buddha Amitabha ;


Jika penjapaan nama Buddha dilakukan di dalam Vihara ataupun rumah, boleh bervisualisasi Buddha Amitabha setinggi ibu jari, seluruh badan berwarna keemasan, bersemayam di kening antara alis mata, bahkan diri sendiri bertransformasi menjadi Buddha Amitabha, setelah visualisasi dengan sejelas-jelasnya, pasti akan memperoleh sensasi spiritual, dan diri sendiri akan mengetahui apakah Buddha Amitabha hadir apa tidak.

Sewaktu Arya Dharmaraja Lian Sheng memandu umat melaksanakan pradaksina mengitari Buddha di Vihara di setiap harinya, setiap kali Buddha Amitabha pasti hadir pula, dan inilah kondisi samprayukta (Red: xiangying).

Adanya perolehan samprayukta, maka sewaktu diri menjelang ajal, selama sepenuh hati menjapa nama Buddha, maka Buddha Amitabha pada waktu yang krusial ini, akan menjemput anda terseberangkan ke Tanah Suci!

Jadi sekali memperoleh kontak samprayukta, maka selamanya tiada akan terpisahkan!

Selanjutnya, Arya Dharmaraja Liansheng Sheng-yen Lu meneruskan babaran kepada umat mengenai Abhiseka dan Fenomena Refleksi Abhiseka daripada “Sadhana Dzogchen”.

Abhiseka di aliran Tantrayana terdapat 4 tingkatan : Abhiseka Pot, Abhiseka Sadhana Internal, Abhiseka Anuttara Tantra, Abhiseka Dzogchen. Sedangkan pada Sadhana Dzogchen sendiri terkandung dua abhiseka yang sangat penting :

1. Abhiseka Panca Buddha (五佛巖頂灌頂) : Abhiseka sentuhan Panca Cakra. (Karmapa ke-16 pernah mengabhiseka Arya Dharmaraja Lian Sheng abhiseka jenis ini, luar biasa sekali.)
Di ‘cakra ubun-ubun’ berada Vairocana Buddha dan Buddhamatri, di ‘cakra tenggorokan’ berada Buddha Amitabha dan Buddhamatri, di ‘cakra hati’ berada Buddha Aksobhya dan Buddhamatri, di ‘cakra pusar’ terdapat Buddha Ratnasambhava dan Buddhamatri, di ‘cakra reproduksi’ (mencakup 4 anggota badan) berada Buddha Amoghasiddhi dan Buddhamatri.

Ketika menerima abhiseka, memvisualisasikan Buddhapitri (Red: Fo-fu/The Father of all Buddhas) dan Buddhamatri (Red: Fo-mu/The Mother of all Buddhas) dari Panca Cakra mengalirkan air amerta, mengabhisekakan seluruh badan, membuat kekotoran pikiran-perkataan-perbuatan sadhaka, beserta prana-nadi-bindu seluruh-luruhnya memperoleh penyucian, ini adalah abhiseka sadhana dzogchen yang sangat penting.

Panca Buddha adalah Guru Sesepuh generasi kedua dari Sadhana Dzogchen, menekuni sadhana dzogchen hendaklah sangat intim berhubungan erat dengan Panca Buddha, di setiap waktu tak pernah terpisahkan.

Monday, October 14, 2013

【Warta Kilat TBSky】Kutipan Dharmadesana Maha Guru Lian Sheng 13 Oktober 2013 : Sadhana Bindu


【真佛天空極速報】師尊剛剛(20 13年10月13日)在美國西雅圖彩虹雷藏寺開示,講最殊勝的《明點法》。
【Warta Kilat TBSky】Maha Guru baru saja (13 Oktober 2013) di Seattle Rainbow Temple membabarkan, menguraikan “Sadhana Bindu” yang paling luar biasa.
Maha Guru berkata : “Cairan Candra Bodhicitta (菩提心月液) di cakra ubun-ubun disebut sebagai ‘Teratai Seribu Kelopak’ (千葉蓮花). Sedangkan di sekujur tubuh manusia seluruhnya berisi Bindu.”

“Cairan Candra Bodhicitta (bindu) asal muasalnya adalah unsur solid, karena sadhaka melatih api kundalini, api naik membakar ke atas bisa melelehkan Cairan Candra Bodhicitta, kemudian turun melalui nadi tengah menetes ke bawah.”

“Semasa Cairan Candra Bodhicitta (bindu) menetes kebawah melewati nadi tengah, pasti menghasilkan Maha Sukha!

Melewati ‘cakra tenggorokan’ menjadi 初喜: Kebahagiaan Awal (ananda/joy), ‘cakra hati’ menjadi 勝喜: Kebahagiaan Terunggul (paramananda/perfect joy), ‘cakra pusar’ menjadi 超喜: Pelampauan Kebahagiaan (viramananda/joy of cessation) , ‘cakra reproduksi’ menjadi 俱生喜: Kebahagiaan pembawaan lahir (sahajananda/innate joy).

Pelatihan pencapaian Empat Kebahagiaan (Caturananda) selanjutnya meneruskan mengangkat bindu, dengan prana dorong ke atas, lebur memasuki kekosongan, segera menghasilkan Empat Kekosongan (Catur Sunyata).”

“Sebagian besar individu mengusahakan perpanjangan rasa kebahagiaan diri untuk pengurangan penderitaan diri sendiri. Sedangkan pada pelatihan sadhana Tantra mampu memperoleh Maha Sukha duniawi, jika anda menekuni sadhana anasrava, kebahagiaan tersebut bertambah semakin panjang!”
 

Thursday, October 10, 2013

【Liputan Khusus TBSky】Maha Guru Lian Sheng mengajarkan Sembilan Tahapan Pernapasan Buddha

【真佛天空特寫】聖尊於 2013年9月22日在西雅圖雷藏寺 開示:「大圓滿法」一樣是注重「氣、脈、點」。「元氣」要很充足,「中脈」從頂竅到密輪要能暢通,「明點」菩提心月液能降至密輪、再提到眉心輪,再等持於全身各脈,可「降提持散」。
如此一來,氣脈點都修通了,才可以開始修「脫噶」的「看光」。修氣中的最基礎法就是「九節佛風」。

【Liputan Khusus TBSky】Yang Arya Dharmaraja Lian Sheng pada tanggal 22 September bertempat di Ling Shen Ching Tze Temple membabarkan : “Maha Sadhana Dzogchen” sama pula menitikberatkan ‘prana, nadi, bindu’.

“Prana” atau Chi : hendaklah penuh, “Nadi Tengah” : dari ubun-ubun kepala hingga cakra reproduksi mesti lancar tak tersumbat, “Bindu” : nektar/cairan candra bodhicitta (菩提心月液) bisa turun hingga ke cakra reproduksi, kemudian dibawa hingga ke cakra ubun-ubun, kemudian tahan hingga menelusuri berbagai nadi sekujur tubuh, mampu melakukan tahapan ‘turun-bawa-tahan-beredar’.

Demikianlah, jika pelatihan prana-nadi-bindu telah berhasil dikuasai, barulah boleh menekuni Penampakan Cahaya pada tingkat “Togal”. Cara terdasar untuk melatih prana adalah “Sembilan Tahap Pernapasan Buddha”. (九節佛風)

Selanjutnya, Dharmaraja Lian Sheng menjelaskan lebih lanjut serta memperagakan langkah “Sembilan Tahap Pernapasan Buddha” (pernapasan sempurna) dengan kunci terutamanya - -

1. Duduk dengan sikap sempurna

2. Visualisasikan diri sendiri hanya menyisakan sebuah wadah

3. Visualisasi Yidam duduk tepat di hadapan

4. Visualisasi lubang hidung Yidam memancarkan cahaya putih, sadhaka menggunakan lubang hidung sebelah kanan menghirup cahaya putih (saat ini mesti menggunakan jari kelingking kiri menekan lubang hidung kiri); cahaya putih menelusuri nadi kanan turun hingga ke titik Avadhuti (dan-tian) berubah menjadi cahaya berwarna merah, kemudian menelusuri nadi kiri naik hingga ke lubang hidung kiri; saat ini digantikan tangan kanan menekan lubang hidung kanan, lepaskan tangan kiri kemudian hembuskan hawa berwarna hitam dari lubang hidung kiri. (langkah ini adalah tahap pertama dari 9 Tahapan Pernapasan Buddha)

5. Kembali bervisualisasi, lubang hidung Yidam memancarkan cahaya putih, sadhaka menggunakan lubang hidung sebelah kiri menghirup cahaya putih (saat ini gunakan jari kelingking kanan menekan lubang hidung kanan); cahaya putih menelusuri nadi kiri turun hingga ke titik Avadhuti (dan-tian) berubah menjadi cahaya berwarna merah, kemudian menelusuri nadi kanan naik hingga ke lubang hidung kanan; saat ini digantikan tangan kiri menekan lubang hidung kiri, lepaskan tangan kanan kemudian hembuskan hawa berwarna hitam dari lubang hidung kanan. (langkah ini adalah tahap kedua dari 9 Tahapan Pernapasan Buddha)

6. Kembali bervisualisasi, kedua lubang hidung Yidam memancarkan cahaya putih, sadhaka menggunakan dua lubang hidung menghirup cahaya putih (bersamaan gunakan 2 jari kelingking menekan dua lubang hidung); cahaya putih menelusuri nadi kiri dan kanan turun hingga ke titik Avadhuti (dan-tian) berubah menjadi cahaya berwarna merah, kemudian menelusuri Nadi Tengah naik hingga ke ubun-ubun kepala, tak tertembus; kembali turun hingga ke titik Avadhuti, menelusuri kedua nadi kiri dan kanan hingga keluar dari dua lubang hidung menghembuskan hawa hitam (langkah ini adalah tahap ketiga dari 9 Tahapan Pernapasan Buddha)

7. Langkah keempat yakni dari lubang hidung kiri menghirup cahaya berwarna putih, hawa hitam dihembuskan keluar dari lubang hidung kanan; langkah kelima menghirup cahaya putih dari lubang hidung kanan, kemudian hawa hitam dihembuskan keluar dari lubang hidung kiri, langkah keenam menghirup cahaya putih dari kedua lubang hidung, kemudian menghembuskan hawa hitam dari kedua lubang hidung.

8. Langkah ketujuh yakni menghirup cahaya putih dengan kedua lubang hidung, hawa hitam dihembuskan keluar dari kedua lubang hidung; langkah kedelapan menghirup cahaya putih dari lubang hidung kanan, kemudian menghembuskan hawa hitam keluar dari lubang hidung kiri, langkah kesembilan menghirup cahaya putih dari lubang hidung kiri, kemudian hawa hitam dihembuskan keluar dari lubang hidung kanan.

9. Kunci penting langkah-langkah diatas berada pada pernapasan “halus, pelan, panjang”.

‘Halus’ artinya dapat dengan seksama, ‘Pelan’ bearti pikiran terpusat, ‘Panjang’ bearti pernapasan secara totalitas. Cara pelatihan “Sembilan Tahap Pernapasan Buddha” begini setidaknya perlu ditekuni selama setengah tahun hingga satu tahun.

10. Tatkala pelatihan “Sembilan Tahap Pernapasan Buddha” telah berada pada tingkat mahir, maka bisa menggunakan visualisasi, sehingga tidak perlu menggunakan jari menekan lubang hidung.

Arya Maha Guru usai memperagakan Sembilan Tahap Pernapasan Buddha (pernapasan sempurna), kemudian menguraikan manfaat agung dan pahalanya :

Thursday, September 26, 2013

【Koleksi Dharmadesana Arya Sheng-yen Lu】Aliran Tantrayana mengajarkan 4 Tahapan

【盧勝彥尊者開示精選】密教講四個層次。
【Koleksi Dharmadesana Arya Sheng-yen Lu】Aliran Tantrayana mengajarkan 4 Tahapan


Tahap pertama, “Ekagra” (專一) yakni hendaklah terpusatkan pada satu titik, terpusat disini dapat dijelaskan sebagai kokohnya aspirasi menekuni Jalan Bodhi (magga-citta). Penekunan Bhavana tentunya harus ‘sepenuh hati’. Saya menjalani pertapaan pengasingan selama 5 tahun ini, tiada lain dengan ‘kesepenuhan hati’, dimanakah letak kesepenuhan hati saya? Yaitu terlahirkan ke Alam Suci, pembebasan Dukkha melampaui Samsara, bersarana kepada Namo Amitabha Buddha. Tidak soal bagaimanakah rupa badai di luar, sungguh banyak kerisauan batin di luar, namun Maha Guru tetap saja sepenuh hati kepada Buddha. Sepanjang 5 tahun pertapaan ini, saya senantiasa melakukan penekunan bhavana, tiada pernah terputuskan. (hadirin bertepuk tangan) Seperti jam 5 pagi hari ini saya terbangun, waktu di Yunani adalah jam 7, jadi secara alamiah saya akan bangun jam 5. Saya setiap hari tidak soal apakah darmawisata ataupun mengerjakan apapun, pasti merampungkan tugas rutin sadhana. Saya kini mengucapkan sebuah kalimat di hadapan Buddha Bodhisattva, di hadapan Mahadewi Yaochi Jinmu, Guru Akar Sakyamuni Buddha, Ksitigarbha Bodhisattva, di hadapan seluruh Buddha Bodhisatva, para Dharmapala, Dhakini dan Deva, sepanjang 5 tahun pertapaan ini, tiada pernah satu hari pun meninggalkan aktivitas sadhana. (hadirin bertepuk tangan)

Tahap Kedua, “Nisprapanca” (離戲) yakni kesahajaan meninggalkan objek kesenangan. Pengasingan diri dalam pertapaan ialah peninggalan kesenangan, makna ‘kesenangan’ adalah semua wujud kesenangan telah tiada berada, tiada nyanyian, tiada tarian, tiada seluruh gangguan dari luar, seutuhnya meninggalkan objek keduniawian, yang tersisa hanyalah anda dan Buddha selamanya bersama-sama, inilah makna peninggalan objek kesenangan. Jadi semasa mengasingkan diri dalam pertapaan, ada umat kebetulan bertemu saya, saya pun berkata saya adalah adiknya Maha Guru Lu, Master Lu is my brother, older brother (hadirin tertawa) Karena saya tidak ingin memperoleh kontak dengan orang luar, inilah peninggalan objek kesenangan.

Kemudian yang Ketiga, “Yoga” (瑜珈), seperti yang dikatakan Guru Dhara tadi mengenai “kemanunggalan”. Saya visualisasikan Buddha, “Zha. Hum. Ban. Huo”, menggunakan Empat Metode Pengundangan untuk “memasuki”, yang bermakna Buddha memasuki diriku dan ‘menetap’ didalamnya, menetap didalam tubuh saya. “Peleburan” bermakna menyatu bersama saya. Pada saat ini wujud pandangan akan alam semesta, seluruhnya berada dalam ‘satu-kesatuan’, inilah ‘Kebenaran Hakiki ’ (Paramartha Satya) yang dibabarkan Buddha, segenap insan adalah Buddha Bodhisattva, tempat yang kutinggali adalah Alam Barat Sukhavatiloka, Mahapadminiloka, (hadirin bertepuk tangan) Segala yang saya pandangi adalah Buddhaloka yang nyata. Segala fenomena adalah sebuah Adarsa-Jnana (Red: Kebijaksanaan Agung Cermin Bundar), Maha Kesempurnaan, Maha Cahaya Terang Tak Terbatas. Karena anda telah menekuni peninggalan objek kesenangan, menyirnakan berbagai jenis kebiasaan buruk diri sendiri, maka dengan alamiah akan membuktikan sifat keBuddhaan, apakah yang terjadi kemudian setelah membuktikan keBuddhaan? Maka yang tersisa adalah ‘Kebenaran Hakiki’.

(Catatan Redaksi : Pada buku karya tulis Maha Guru Lian Sheng ke-154 “Cahaya Kebijaksanaan”, Maha Guru menerangkan lebih lanjut tahap ketiga ini sebagai 一味瑜伽 : “Samarasa Yoga”).

Sunday, September 15, 2013

【Warta TBSky】Maha Guru Lian Sheng membabarkan fenomena pandangan batin Dzogchen

【真佛天空極速報】關於修行大圓滿法,其產生力量來改變行者的心念,聖尊於9月8日說道以下現象:




【Warta TBSky】Berkenaan penekunan sadhana Dzogchen (Kesempurnaan Agung), kekuatan yang terbangkitkan akan mengubah pandangan batin seorang sadhaka, Maha Guru Dharmaraja Lian Sheng pada tanggal 8 September membabarkan fenomena-fenomena sebagai berikut :

1. ”Tiada kegentaran terhadap hidup dan mati” : Seperti bayi yang baru lahir tidak mengetahui makna hidup dan mati, demikianlah tiada konsep pandangan mengenai kehidupan dan kematian. Semasa penekunan bhavana kita telah mencapai tahapan ini tentu dengan alamiah tiada pandangan akan kehidupan dan kematian.

2. ”Memiliki jiwa pengemis” : Bisa bertahan hidup pada kondisi apapun. Di dalam penjara, pekuburan, gua, selokan berbau busuk, pasar ikan…. sama saja dapat mengamalkan bhavana. Sama seperti Guru Sesepuh Tilopa pendiri aliran Kargyudpa yang melatih bhavana di pasar ikan, Ia sembari mengkonsumsi usus ikan pun masih bisa mengamalkan bhavana. Sadhaka tetap mampu tampil ulung meski berada di lingkungan apapun.

3. ”Segalanya tiada kegundahan” : Menurut penelitian tim spesialis dari Inggris~apabila batin diri sendiri sering tertekan dalam jangka waktu panjang akan mudah mendapat penyakit kanker. Maka hendaknya seperti pengemis, pada kondisi apapun hati tiada kegundahan. Ada umat baru pertama kali melihat Maha Guru tangannya gemetar ketika mempersembahkan hatta. Tatkala penekunan sungguh mencapai tingkatan sebenarnya, tidak perlu gundah gulana.

Maha Guru berkata : “Seorang sadhaka kendati melihat seseorang yang berkedudukan sekalipun tidak perlu gemetar, dan juga tidak perlu menempatkan diri sendiri dalam kerisauan, sesungguhnya sifat keBuddhaan sungguh mulia berada pada diri setiap insan, boleh menggunakan sifat keBuddhaan ini untuk menemui orang yang berkedudukan tinggi.”

“Berada pada lingkungan apapun hendaklah tiada kegentaran, sesungguhnya yang paling menakutkan adalah dirimu sendiri. Ketika kita berlatih bhavana hingga ke tahap Dzogchen, diri sendiri memiliki kewibawaan seperti singa yang tidak gentar terhadap apa pun, golongan apapun seyogyanya gentar terhadap anda, apakah tiba di tempat termulia ataupun tiba di tempat terendah, diri ini telah tiada rasa gentar, tiada rasa takut.”

Friday, September 13, 2013

【Koleksi Dharmadesana Arya Sheng-yen Lu】Berkenaan kekuatan Adisthana Silsilah, ada Empat norma yang harus selalu kita ingat!

這是很重要的觀念!【盧勝彥尊者開示精選】對於傳承加持力,有四點要大家記住
Berikut adalah Prinsip Mendasar yang sangat penting!



【Koleksi Dharmadesana Arya Sheng-yen Lu】Berkenaan kekuatan Adisthana Silsilah, ada Empat norma yang harus kita ingat :

Pertama, Telaga Abhiseka selamanya tidak akan terkuras habis --- Setiap kali anda menekuni sadhana adalah sama dengan arus Dharma alam semesta turun dari angkasa mengabhiseka diri anda, telaga abhiseka ini selamanya tidak akan terkuras habis.

Kedua, Kekuatan adisthana silsilah Mulacarya selamanya tidak sirna --- Mulacarya memberi abhiseka kepada anda, memberi adisthana kepada anda, sepanjang anda senantiasa di setiap waktu merenungkan Mulacarya, maka kekuatan adisthana silsilah Mulacarya tidak akan sirna.

Ketiga, Tahap sadhana anda tidak kacau --- Anda hendaklah memastikan ‘tidak mengacaukan tahap-tahap sadhana’, tidak sembarang bersarana, tidak sembarang menerima abhiseka, tidak asal menekuni sadhana.


Thursday, August 29, 2013

【Warta TBSky】 Berita Foto Suasana Maha Upacara Dharma di Seattle

【Warta TBSky】 Berita Foto Suasana Maha Upacara Dharma di Seattle

Repost dari : www.facebook.com/TBSkyBahasaIndonesia
Foto dan tulisan oleh : V.A Hui Jun


【Warta TBSky】Sore hari ini, Maha Guru memberikan Dharmadesana seperti kutipan dibawah ini ~
Bodhisattva Manjusri bertanya kepada Buddha Sakyamuni : “Buddha, bukankah Engkau adalah Hyang Sugata (Maha Tahu)? Tetapi golongan Thirtika ini hendak mencelakai Engkau, mengapa Buddha tidak terlebih dulu membeberkannya?” Dengan demikian para siswa juga elok memberikan antisipasi?!

Sang Buddha memberikan perumpamaan yang sangat apik : Seperti ~ dokter yang telah mengetahui bahwa pasien ini sakit, akan tetapi dampak penyakit belum muncul pada orang ini, masih belum mencari pengobatan, maka dokter ini tidak akan terlebih dulu memberitahukan pasien penyakit yang diidapnya pula. Ini merupakan pengungkapan yang bukan tidak pada waktunya.

Dahulu ada yang sembari berlutut di hadapan Maha Guru berkata : “Diriku sendiri kelak akan sepenuh hati setia, pasti tidak akan mengecewakan Maha Guru!” , sebenarnya di hati Maha Guru sedari awal telah mengetahui perubahannya kelak… namun sama tiada akan mengungkapkan jika bukan pada waktunya pula.

Bodhisattva Manjusri kembali menanyakan Buddha Sakyamuni : “Ketika Cinca, Sundari datang memfitnah Hyang Buddha, mengapakah Tathagata tidak memberikan jawaban sangkalan?” (Red: Cinca dan Sundari adalah dua perempuan yang memfitnah Sang Buddha telah melakukan perbuatan asusila dengan mereka hingga berbadan dua)

Buddha Sakyamuni menjawab : “Seperti ~ seseorang yang mencerca langit angkasa, apakah angkasa mesti mengembalikan tanggapan juga?”

Kisah ini tercantum di “Manjusri-pariprcha-Sutra” (文殊師利所問經)


Tuesday, August 27, 2013

【Warta TBSky】Buletin Arya Sheng-Yen Lu “Upacara Dharma Akbar Arya Pindola Bharadvaja” 24 Agustus : Arya Pindola adalah Ladang Berkah nomor Satu - Makna mendalam penekunan Jalan Arahat!

【盧勝彥尊者8月24日賓頭盧長眉尊者大法會新聞極速報】賓頭盧長眉尊者福田最第一阿羅漢道上修行有奧義!

【Warta TBSky】Buletin Arya Sheng-Yen Lu “Upacara Dharma Akbar Arya Pindola Bharadvaja” 24 Agustus : Arya Pindola adalah Ladang Berkah nomor Satu - Makna mendalam penekunan Jalan Arahat!

Liputan oleh V.A Hui Jun

Terjemahan kata Pindola adalah tiada bergerak, merupakan namaNya; Bharadvaja bermakna indra cemerlang, merupakan margaNya; sebutan singkatNya “Arya Pindola”. Ia atas amanat Buddha Sakyamuni senantiasa berada di dunia untuk menerima pujana persembahan, memberikan berkah kepada segenap insan, karena demikian Ia merupakan Ladang Berkah nomor satu.

Pada tanggal 24 Agustus 2013, Seattle Ling Shen Ching Tze Temple menyelenggarakan “Maha Upacara Akbar Buddha Amitabha pengikisan malapetaka dan penyeberangan arwah” bertempat di Meydenbauer Center, segenap penghormatan tertinggi memohon Yang Mulia Dharmaraja Lian Sheng memimpin Upacara Dharma beserta transmisi Maha Sadhana Arya Pindola.

Sehari menjelang Upacara Dharma, di atas angkasa Seattle Ling Shen Ching Tze Temple muncul barisan awan-awan panjang~Awan Alis Panjang, fenomena ini adalah daya adisthana Yang Mulia sehingga Adinata sejak semula telah hadir melindungi, fenomena ajaib di langit angkasa sungguh mengundang rasa takjub!

Jam 10 siang pada hari berlangsungnya Upacara Dharma, Maha Guru sejak awal telah tiba di Meydenbauer Center menandatangani lebih dari 700 buku, para umat yang datang dari tempat jauh memegang erat-erat buku kesayangan karya tulis Maha Guru dan penuh hormat memohon Maha Guru menorehkan tanda tangan, semua merasakan kebahagiaan dan menghargai baik-baik torehan tanda tangan ini. Daden Culture Taiwan menuturkan, semakin banyak buku-buku karya tulis Maha Guru menaiki peringkat laris di toko buku “Kingstone Bookstore” Taiwan. Bisa dilihat, karena upacara Dharma Maha Guru setiap akhir minggu sepanjang setengah tahun lalu di Taiwan, telah ikut mempublikasikan nama besar Maha Guru di toko-toko buku setempat!

Sebelum Upacara Dharma dimulai, Presiden “Sheng-Yen Lu Foundation” Dr. Fo-Ching Lu memberikan kata sambutan : Anak-anak yang hidup dibawah batas garis kemiskinan di seluruh dunia jumlahnya sangat banyak, semenjak Maha Guru merintis pendirian Sheng-Yen Lu Foundation, telah memberikan banyak bantuan terhadap masalah berkenaan. Tahun ini kami membuat video pendek bertemakan Amal Sosial untuk mempertunjukkan hasil karya kegiatan sosial. Kegiatan meliputi rehabilitasi pasca bencana alam internasional, memberikan bantuan kepada anak-anak yang hidup dalam kemiskinan dan menyekolahkan mereka… Tahun ini telah didonasikan sebesar US$24.000 kepada instansi-instansi terkait.

Monday, July 29, 2013

【Warta TBSky Y.A Sheng-Yen Lu】 Menjelajahi Kemegahan Masa Lalu Kastil Kuno Windsor, Penurunan Metode Agung Jinmu Merawat Kesehatan di Jen Yen Temple

【盧勝彥尊者真佛天空新聞報】溫莎堡古遊昔日榮貴,金母保健大法傳真言。
【Warta TBSky Y.A Sheng-Yen Lu】 Menjelajahi Kemegahan Masa Lalu Kastil Kuno Windsor, Penurunan Metode Agung Jinmu Merawat Kesehatan di Jen Yen Temple


(Warta TBSky/Liputan oleh V.A Hui Jun) Kastil Windsor, yang terletak di arah tenggara Inggris wilayah Berkshire Windsor – wilayah otoritas keluarga bangsawan kerajaan Inggris “Royal Borough of Windsor and Maidenhead”, saat ini merupakan kastil kerabat kerajaan Inggris bangsawan Windsor, yang di jaman kini merupakan kastil terbesar di dunia yang ada didiami orang.     
 
Sejarah Kastil Windsor” dapat ditelusuri kembali ke periode William I, luas lantai kastil sekitar 45.000 meter persegi  sama seperti Istana Buckingham di London, dan Istana Holyrood di Edinburgh, Kastil Windsor juga adalah tempat kediaman administratif resmi terutama dari Ratu Inggris. Ratu Inggris saat ini Elizabeth II menghabiskan cukup banyak waktu setiap tahunnya di Kastil Windsor, mengadakan kegiatan kenegaraan maupun acara hiburan pribadi disini (info ini diambil dari internet)
 

Pada tanggal 24 Juni 2013 Yang Mulia Maha Guru beserta Guru Dhara dan rombongan atas penyusunan acara oleh True Buddha Temple London (真渡雷藏寺/Zhendu Leizangsi), mengunjungi Kastil Windsor untuk kegiatan darmawisata setengah hari. Beserta rombongan terdapat Dubes Departemen Luar Negeri R.O.C Bapak Liao Dongzhou dan Ibu, Bapak Sekjen Deng Hang dari Yayasan Selat Taiwan Pertukaran Budaya Tionghoa dan Ibu beserta umat lainnya.

Sunday, July 28, 2013

【Warta TBSky】《Penggalan Dharmadesana akhir pekan Yang Mulia Sheng-Yen Lu di Seattle tanggal 27 Juli 2013》

Berita Terbaru! 《Penggalan Dharmadesana akhir pekan Yang Mulia Sheng-Yen Lu di Seattle tanggal 27 Juli ~ Warta TBSky 》


Seorang sadhaka hendaklah menghargai tubuh sendiri, dengan adanya tubuh barulah usaha bhavana memperoleh kesempurnaan, untuk itu janganlah melukai hidup sendiri, janganlah berpikir membakari badan sebagai persembahan kepada Buddha adalah wujud penekunan Jalan Mulia.

Yang disebut “Semde” (心部/Seri Pikiran) bermakna sangat luas nan mendalam. Pada kondisi asal mula, setiap insan memiliki Buddhata (sifat keBuddhaan), Buddhata bukan diperoleh dari penekunan, namun pada asalnya setiap insan telah memilikinya.

Tuesday, July 23, 2013

【Warta TBSky ~ Dharmadesana Y.A Sheng Yen-Lu 20 Juli】Yang Mulia Dharmaraja Lian Sheng mengulas mantra hati, beserta mengungkapkan makna mendalam Tri Tantra : Kriya Tantra, Carya Tantra, Yoga Tantra

【盧勝彥尊者7月20日開示~真佛天空新聞報】聖尊蓮生活佛闡釋心咒、並透露《內三次第》事部、行部、瑜伽部與三大《瑜伽次第》甚深奧義。
【Warta TBSky ~ Dharmadesana Y.A Sheng Yen-Lu 20 Juli】Yang Mulia Dharmaraja Lian Sheng mengulas mantra hati, beserta mengungkapkan makna mendalam Tri Tantra : Kriya Tantra, Carya Tantra, Yoga Tantra


(Liputan oleh Lianhua Hui Jun) Dharmadesana 20 Juli 2013, Mulacarya Dharmaraja Lian Sheng memimpin “Sadhana Padmasambhava” betempat di Ling Shen Ching Tze Temple –Seattle dan membabarkan “Sadhana 9 Tingkat Dzogchen”. (Red : Dzogchen = Kesempurnaan Agung).

Seusai upacara Homa, Maha Guru memberikan Dharmadesana mengenai pertanyaan Acarya Lian Lai (蓮萊上師) apakah boleh seperti Maha Guru menjapakan mantra hati pendek Padmasambhava : “Om Pie Ca Pe Ma Hum”?

Maha Guru menerangkan : Berdasarkan ajaran Buddhisme Tantrayana, mantra hati panjang, mantra hati pendek keduanya memiliki pahala yang sama, apabila waktu sadhana sadhaka panjang boleh menjapa mantra hati panjang, jika waktunya pendek boleh menjapa mantra pendek. (akan tetapi seorang sadhaka seyogyanya menghindari sifat malas)

Sebagaimana di alam dewa terdapat mantra hati pendek “HUM”, aksara ini sama seperti melafalkan 21 alam Dewa. Kemudian “BHRUM”, aksara ini melingkupi segalanya. Menjapa mantra Murka “PHEI”, aksara ini mencakupi semuanya! Aksara “Phei” memaknakan Penolakan, Penghentian, Pemutusan. (Maha Guru dahulu juga menerangkan aksara ini bisa mengikis pikiran semu)

Sunday, July 21, 2013

【Intisari Dharmadesana Y.A Sheng-Yen Lu】 Maha Guru berkata : Semua siswa aliran Zhenfozong kita hendaklah kompak bersatu, memantapkan cita-cita mencapai keBuddhaan, menyokong Dharma Tantra Satya Buddha



 
【Intisari Dharmadesana Y.A Sheng-Yen Lu】 Maha Guru berkata : “Semua siswa aliran Zhenfozong kita hendaklah kompak bersatu, memantapkan cita-cita mencapai keBuddhaan, menyokong Dharma Tantra Satya Buddha, hingga takkan punah senantiasa berkesinambungan. Ini adalah hal terutama, aspek ini patut diberi dukungan. (Hadirin bertepuk tangan) Tentu disini, kita harus menyokong anggota Sangha aliran kita, mengayomi serta berupaya memperpanjang usia aliran Zhenfozong, hal ini patut dilakukan, kita semua hendaklah bersatu, hendaklah mengerti dengan jelas, haruslah diketahui, janganlah menciptakan persoalan di antar aliran sendiri.”

“Saya berpendapat aliran Zhenfozong berada di alam duniawi ini, kita yang menekuni bhavana di alam duniawi, kita adalah anggota Sangha, hendaklah anggota Sangha dan umat perumahtangga lebur bersatu, tidak boleh terpecah belah. (hadirin bertepuk tangan) Bagi yang menghalangi kesinambungan penyebaran Buddha Dharma dan yang memutuskan jiwa kebijaksanaan insan, hendaklah anda menampilkan kekuatan ketegasan, maka aliran kita barulah bisa bertahan hidup, jika tidak maka akan pecah tercerai-berai; tidak hanya demikian, tetapi seluruhnya akan jatuh merosot. Cara yang kita pergunakan tentunya berdasarkan Buddha Dharma dan hukum duniawi, aspek ini bisa kita gunakan. Kita termasuk aliran Sahih, maka digunakanlah cara sahih pula untuk menyelesaikan persoalan. Benarkah begini? (hadirin : Benar!) Benarkah cara ini? (hadirin : Iya!) Hal ini patut diberi himbauan, hendaklah dikerjakan, mengeluarkan uang ataupun tenaga kiranya patut kesemuanya ini.”

Thursday, July 18, 2013

[Dokumentasi Upacara Dharma Maha Guru Lian Sheng] Buddha memerlukan Dharmapala melindungi Saddharma

【盧勝彥尊者法會新聞】對於斷人慧命者,行者當發揮鐵腕力量。聖者雖證無生忍,佛陀旁亦需有金剛力士護佛護教!

【Berita Upacara Dharma Dharmaraja Sheng-Yen Lu】Terhadap pihak yang memutuskan jiwa kebijaksanaan, sadhaka hendaklah mengembangkan kekuatan ketegasan. Seorang Arya walaupun mencapai kondisi Anuttpatika-dharma-ksanti, namun Buddha memerlukan Dharmapala melindungi Saddharma!

(Liputan oleh Lianhua Hui Jun) Tanggal 30 Juni 2013, Mulacarya Dharmaraja Lian Sheng pada upacara Dharma bertempat di Vihara Vajragarbha Seattle, memenuhi undangan telah memimpin Sadhana bersama Yidam Ksitigarbha Bodhisattva. Pada sesi perkenalan di upacara Dharma tersebut, umat yang datang dari kota Calgary - Canada secara khusus berdiri dari tempat duduk mengucapkan rasa terimakasih sebesar-besarnya kepada Mulacarya terhadap peristiwa bencana banjir bandang tanggal 21 Juni, para umat oleh karena daya berkat Satya Buddha-lah sehingga bisa melewati bencana tersebut dengan aman sentosa.

Usai Sadhana bersama Mulacarya secara khusus melimpahkan jasa : Memohon Ksitigarbha Bodhisattva dengan pancaran sinar terang mutiara memancari segenap makhluk luas sehingga meredamkan bencana, menambah kebijaksanaan, menyeberangkan makhluk alam bardo, beserta segala permohonan terkabulkan. Sebelum memulai sesi Dharmadesana, pembawa acara mengumumkan kegiatan “Sehati dengan Buddha” menjapakan mantra hati Buddha Amitayus telah mencapai lebih dari 109.237.000 juta kali. Seketika pula tepuk tangan meriah membahana, sungguh berterimakasih kepada seluruh umat yang telah turut menjapakan, beserta permohonan agar Mulacarya senantiasa menetap di dunia, usia panjang sehat sentosa, senantiasa memutar roda Dharma.